← Kembali ke Kitab
Cover Tijan Ad-Darari fit Tauhid
KITAB

Tijan Ad-Darari fit Tauhid

Karya Syekh Ibrahim Al-Bajuri
Tījān ad-Darārī fī at-Tawḥīd adalah kitab ringkas dalam bidang ilmu tauhid karya Syekh Ibrāhīm al-Bājūrī. Kitab ini membahas dasar-dasar akidah Islam, khususnya sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah Ta'ala, serta sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi para rasul. Disusun secara ringkas dan sistematis, kitab ini menjadi salah satu bahan kajian penting dalam mempelajari dasar-dasar ilmu tauhid.
BAGIAN 02
صِفَاتُ اللهِ الْوَاجِبَةُ
Ṣifātullāhil-Wājibah
Sifat-Sifat Allah yang Wajib
Tampilan: Arab + Latin + Terjemah + Penjelasan
1
الْوُجُودُ Al-Wujūd
يَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الْوُجُودُ، وَضِدُّهُ الْعَدَمُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذٰلِكَ وُجُودُ الْمَخْلُوقَاتِ.
Al-Wujūd
Allah Ta'ala wajib memiliki sifat Wujud, yaitu benar-benar ada. Lawannya adalah Al-‘Adam, yaitu tidak ada.
Penjabaran & Pemahaman
Al-Wujud berarti keberadaan Allah Ta'ala bersifat wajib, bukan kemungkinan. Allah tidak menjadi ada karena diciptakan oleh sesuatu, karena Dia adalah Pencipta seluruh makhluk. Adanya alam semesta yang berubah, tersusun, dan memiliki permulaan menunjukkan bahwa alam membutuhkan Pencipta. Pencipta tersebut tidak mungkin sama-sama membutuhkan pencipta lain tanpa akhir. Karena itu, Allah Ta'ala wajib ada dan keberadaan-Nya tidak bergantung kepada makhluk.
Lawan Sifat
الْعَدَمُ— Al-‘Adam (tidak ada). Lawannya adalah ketiadaan. Mustahil Allah Ta'ala tidak ada, karena jika Allah tidak ada maka tidak mungkin ada Pencipta yang mewujudkan seluruh makhluk.
Dalil & Artinya
وَالدَّلِيلُ عَلَى ذٰلِكَ وُجُودُ الْمَخْلُوقَاتِArtinya: “Dalil atas hal tersebut adalah adanya makhluk-makhluk.”
Kesimpulan
Allah Ta'ala wajib bersifat Wujud. Seluruh makhluk yang ada menjadi tanda bahwa alam tidak berdiri sendiri dan membutuhkan Pencipta.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat pertama. Al-Wujud adalah sifat yang menunjukkan adanya Allah Ta'ala.
2
الْقِدَمُ Al-Qidam
وَيَجِبُ الْقِدَمُ، وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ لَا أَوَّلَ لَهُ تَعَالَى، وَضِدُّهُ الْحُدُوثُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذٰلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ حَادِثًا لَاحْتَاجَ إِلَى مُحْدِثٍ، وَهُوَ مُحَالٌ.
Al-Qidam
Allah Ta'ala wajib bersifat Qidam, yaitu tidak memiliki permulaan.
Penjabaran & Pemahaman
Qidam berarti keberadaan Allah tidak didahului oleh ketiadaan. Allah bukan makhluk yang muncul setelah sebelumnya tidak ada. Semua makhluk bersifat baru (ḥādits) dan membutuhkan sebab yang mewujudkannya, sedangkan Allah adalah Pencipta dan tidak membutuhkan pencipta. Jika Allah dianggap mempunyai permulaan, berarti Allah membutuhkan pihak yang mengadakan-Nya, dan ini bertentangan dengan kedudukan-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta.
Lawan Sifat
الْحُدُوثُ— Al-Ḥudūts (baru/mempunyai permulaan). Mustahil Allah adalah sesuatu yang baru yang membutuhkan pihak lain untuk mengadakan-Nya.
Dalil & Artinya
وَلَوْ كَانَ حَادِثًا لَاحْتَاجَ إِلَى مُحْدِثٍ، وَهُوَ مُحَالٌArtinya: “Seandainya Dia sesuatu yang baru, niscaya Dia membutuhkan pihak yang mengadakan-Nya; dan hal itu mustahil.”
Kesimpulan
Allah Ta'ala tidak mempunyai awal. Segala yang mempunyai permulaan adalah makhluk, sedangkan Allah adalah Pencipta makhluk.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat kedua. Qidam menegaskan bahwa Allah tidak didahului oleh ketiadaan.
3
الْبَقَاءُ Al-Baqā’
وَيَجِبُ الْبَقَاءُ، وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ لَا آخِرَ لَهُ تَعَالَى، وَضِدُّهُ الْفَنَاءُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذٰلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فَانِيًا لَكَانَ حَادِثًا، وَهُوَ مُحَالٌ.
Al-Baqā’
Allah Ta'ala wajib bersifat Baqa', yaitu tidak mempunyai akhir dan tidak mengalami kebinasaan.
Penjabaran & Pemahaman
Baqa' berarti Allah Ta'ala tidak akan berakhir, binasa, atau berubah menjadi tidak ada. Makhluk mempunyai sifat fana dan akan berakhir sesuai ketentuan Allah. Allah berbeda dari makhluk karena keberadaan-Nya tidak bergantung pada sesuatu. Jika Allah mungkin binasa, berarti keberadaan-Nya mempunyai batas dan bergantung pada sebab, padahal hal itu mustahil bagi Tuhan Yang Qadim.
Lawan Sifat
الْفَنَاءُ— Al-Fanā’ (binasa/berakhir). Mustahil Allah Ta'ala mengalami ketiadaan setelah ada.
Dalil & Artinya
أَنَّهُ لَوْ كَانَ فَانِيًا لَكَانَ حَادِثًا، وَهُوَ مُحَالٌArtinya: “Seandainya Dia dapat binasa, niscaya Dia menjadi sesuatu yang baru; dan hal itu mustahil.”
Kesimpulan
Allah Ta'ala kekal, tidak memiliki akhir dan tidak mengalami kebinasaan. Makhluk boleh mengalami perubahan dan berakhir, sedangkan Allah tidak demikian.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat ketiga. Baqa' adalah lawan dari fana dan menegaskan kekekalan Allah.
4
مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ Mukhalafatuhu lil-Ḥawādits
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ، وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ لَيْسَ مُشَابِهًا لِشَيْءٍ مِنَ الْحَوَادِثِ، وَضِدُّهَا الْمُمَاثَلَةُ لِلْحَوَادِثِ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ لَوْ أَشْبَهَ شَيْئًا مِنْهَا لَكَانَ حَادِثًا مِثْلَهُ.
Mukhalafatuhu lil-Ḥawādits
Allah Ta'ala wajib berbeda dari seluruh makhluk dan segala sesuatu yang bersifat baru.
Penjabaran & Pemahaman
Makna Mukhalafatuhu lil-Hawadits adalah Allah tidak menyerupai makhluk dalam zat, sifat, maupun cara keberadaan-Nya. Karena makhluk memiliki ukuran, bentuk, arah, tempat, perubahan, kebutuhan, dan batas, maka sifat-sifat tersebut tidak boleh dipahami sebagai sifat Allah seperti keadaan makhluk. Pembahasan ini menjaga akidah agar tidak menyamakan Allah dengan ciptaan.
Lawan Sifat
مُمَاثَلَةُ الْحَوَادِثِ— Mumātsalatu al-Ḥawādits (menyerupai makhluk). Mustahil Allah memiliki keserupaan hakiki dengan makhluk.
Dalil & Artinya
لَوْ أَشْبَهَ شَيْئًا مِنْهَا لَكَانَ حَادِثًا مِثْلَهُArtinya: “Seandainya Dia menyerupai salah satu dari makhluk yang baru, niscaya Dia juga menjadi sesuatu yang baru seperti makhluk tersebut.”
Kesimpulan
Allah Ta'ala tidak menyerupai makhluk. Apa pun gambaran keserupaan yang muncul dalam pikiran manusia tidak boleh dijadikan ukuran untuk memahami hakikat Allah.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat keempat. Sifat ini merupakan dasar penting untuk memahami bahwa Allah tidak sama dengan ciptaan-Nya.
5
قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ Qiyāmuhu Binafsihi
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الْقِيَامُ بِالنَّفْسِ، وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مَحَلٍّ وَلَا إِلَى مُخَصِّصٍ، وَضِدُّهُ الِاحْتِيَاجُ إِلَى الْمَحَلِّ وَالْمُخَصِّصِ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَوِ احْتَاجَ إِلَى مَحَلٍّ لَكَانَ صِفَةً، وَكَوْنُهُ صِفَةٌ مُحَالٌ، وَلَوِ احْتَاجَ إِلَى مُخَصِّصٍ لَكَانَ حَادِثًا، وَكَوْنُهُ حَادِثًا مُحَالٌ.
Qiyāmuhu Binafsihi
Allah Ta'ala tidak membutuhkan tempat, penopang, atau pihak yang menentukan keberadaan-Nya.
Penjabaran & Pemahaman
Qiyamuhu binafsihi bukan berarti Allah berdiri secara fisik seperti makhluk. Maksudnya adalah Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan tempat untuk ada serta tidak membutuhkan pihak lain yang menentukan keberadaan-Nya. Semua makhluk justru membutuhkan Allah: membutuhkan penciptaan, pemeliharaan, dan keberlangsungan. Allah tidak membutuhkan makhluk.
Lawan Sifat
الِاحْتِيَاجُ إِلَى الْمَحَلِّ وَالْمُخَصِّصِ— membutuhkan tempat dan pihak yang menentukan. Mustahil Allah membutuhkan sesuatu yang lain.
Dalil & Artinya
لَوِ احْتَاجَ إِلَى مُخَصِّصٍ لَكَانَ حَادِثًا، وَكَوْنُهُ حَادِثًا مُحَالٌArtinya: “Seandainya Dia membutuhkan pihak yang menentukan, niscaya Dia menjadi sesuatu yang baru; dan menjadi sesuatu yang baru adalah mustahil.”
Kesimpulan
Allah berdiri sendiri dalam arti tidak membutuhkan tempat dan tidak membutuhkan pihak yang mengadakan atau menentukan-Nya. Justru seluruh makhluk membutuhkan Allah.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat kelima. Istilah “berdiri dengan sendiri” harus dipahami sebagai tidak bergantung kepada makhluk, bukan sebagai bentuk fisik.
6
الْوَحْدَانِيَّةُ Al-Waḥdāniyyah
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الْوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَفِي الصِّفَاتِ وَفِي الْأَفْعَالِ، وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الذَّاتِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مُرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ مُتَعَدِّدَةٍ، وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الصِّفَاتِ أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ صِفَتَانِ فَأَكْثَرُ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ كَقُدْرَتَيْنِ، وَلَيْسَ لِغَيْرِهِ صِفَةٌ تُشَابِهُ صِفَتَهُ تَعَالَى، وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الْأَفْعَالِ أَنَّهُ لَيْسَ لِغَيْرِهِ فِعْلٌ مِنَ الْأَفْعَالِ، وَضِدُّهَا التَّعَدُّدُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُتَعَدِّدًا لَمْ يُوجَدْ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ.
Al-Waḥdāniyyah
Allah Ta'ala wajib bersifat Wahdaniyyah, yaitu esa dalam zat, sifat, dan perbuatan.
Penjabaran & Pemahaman
Wahdaniyyah memiliki tiga sisi. Pertama, keesaan pada zat: Allah tidak tersusun dari bagian-bagian dan tidak ada zat lain yang menjadi tandingan-Nya. Kedua, keesaan pada sifat: tidak ada sifat makhluk yang menyamai kesempurnaan sifat Allah. Ketiga, keesaan pada perbuatan: penciptaan pada hakikatnya berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah. Karena itu, tidak boleh meyakini adanya Tuhan lain yang setara dengan Allah.
Lawan Sifat
التَّعَدُّدُ— At-Ta‘addud (berbilang/lebih dari satu). Mustahil ada tandingan bagi Allah dalam ketuhanan.
Dalil & Artinya
أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُتَعَدِّدًا لَمْ يُوجَدْ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِArtinya: “Seandainya terdapat lebih dari satu Tuhan, niscaya tidak akan ada sesuatu pun dari makhluk-makhluk ini.”
Kesimpulan
Allah adalah satu-satunya Tuhan. Tidak ada sekutu yang setara dengan-Nya dalam zat, sifat ketuhanan, maupun penciptaan.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat keenam. Wahdaniyyah adalah sifat terakhir dari enam sifat awal yang menegaskan kesucian Allah dari berbagai bentuk ketergantungan dan keserupaan.
7
الْقُدْرَةُ Al-Qudrah
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الْقُدْرَةُ، وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يُوجَدُ بِهَا وَيُعَدِمُ، وَضِدُّهَا الْعَجْزُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوجَدْ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ.
Al-Qudrah
Allah Ta'ala wajib memiliki Qudrah, yaitu sifat kekuasaan yang dengannya Allah mewujudkan atau meniadakan perkara yang mumkin sesuai kehendak-Nya.
Penjabaran & Pemahaman
Qudrah Allah tidak sama dengan kemampuan manusia. Kemampuan manusia terbatas, bergantung kepada kesehatan, alat, waktu, dan sebab-sebab lain. Kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh kebutuhan seperti itu. Dengan Qudrah-Nya Allah mewujudkan apa yang Dia kehendaki dan meniadakan apa yang Dia kehendaki. Segala sesuatu yang mumkin berada di bawah kekuasaan-Nya.
Lawan Sifat
الْعَجْزُ— Al-‘Ajz (lemah/tidak berkuasa). Mustahil Allah tidak mampu.
Dalil & Artinya
أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوجَدْ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِArtinya: “Seandainya Dia lemah, niscaya tidak ada sesuatu pun dari makhluk-makhluk ini yang akan ada.”
Kesimpulan
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu yang mumkin. Keberadaan alam menunjukkan kekuasaan-Nya.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat ketujuh. Teks matan menjelaskan Qudrah sebagai sifat qadim yang berkaitan dengan mewujudkan dan meniadakan.
8
الْإِرَادَةُ Al-Irādah
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الْإِرَادَةُ، وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، يُخَصِّصُ بِهَا الْمُمْكِنَ بِالْوُجُودِ أَوْ بِالْعَدَمِ، أَوْ بِالْغِنَى أَوْ بِالْفَقْرِ، أَوْ بِالْعِلْمِ أَوْ بِالْجَهْلِ، إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ، وَضِدُّهَا الْكَرَاهَةُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَارِهًا لَكَانَ عَاجِزًا، وَكَوْنُهُ عَاجِزًا مُحَالٌ.
Al-Irādah
Allah Ta'ala wajib memiliki Iradah, yaitu kehendak yang menentukan salah satu kemungkinan dari perkara yang mumkin.
Penjabaran & Pemahaman
Iradah berarti Allah menentukan bagaimana suatu perkara mumkin terjadi: ada atau tidak ada, kaya atau miskin, berilmu atau tidak, dan berbagai keadaan lain yang mungkin. Ini tidak berarti Allah dipaksa oleh sesuatu. Justru Allah menentukan dengan kehendak-Nya. Istilah “mumkin” penting dipahami: mumkin adalah sesuatu yang secara akal dapat ada dan dapat tidak ada; keberadaannya tidak wajib pada dirinya sendiri.
Lawan Sifat
الْكَرَاهَةُ— Al-Karāhah (tidak menghendaki/menolak). Dalam pembahasan sifat ini, lawannya adalah bahwa Allah tidak memiliki kehendak yang menentukan.
Dalil & Artinya
أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَارِهًا لَكَانَ عَاجِزًا، وَكَوْنُهُ عَاجِزًا مُحَالٌArtinya: “Seandainya Dia tidak berkehendak sebagaimana yang ditetapkan, niscaya Dia lemah; dan keadaan lemah itu mustahil bagi-Nya.”
Kesimpulan
Allah Ta'ala memiliki kehendak yang qadim dan dengan Iradah-Nya perkara-perkara mumkin ditentukan pada keadaan tertentu.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat kedelapan. Konsep mumkin sangat penting: makhluk termasuk perkara mumkin, sedangkan Allah bukan mumkin karena Allah wajib ada.
9
الْعِلْمُ Al-‘Ilm
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الْعِلْمُ، وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، يَعْلَمُ بِهَا الْأَشْيَاءَ، وَضِدُّهَا الْجَهْلُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ جَاهِلًا لَمْ يَكُنْ مُرِيدًا، وَهُوَ مُحَالٌ.
Al-‘Ilm
Allah Ta'ala wajib bersifat Ilmu, yaitu mengetahui segala sesuatu.
Penjabaran & Pemahaman
Ilmu Allah bersifat sempurna dan tidak didahului ketidaktahuan. Pengetahuan manusia terbatas dan diperoleh melalui belajar, pengalaman, pengamatan, atau pemberitahuan. Allah tidak memperoleh ilmu melalui proses seperti manusia. Allah mengetahui segala yang wajib, mustahil, dan mumkin; mengetahui keadaan makhluk, masa lalu, masa kini, dan apa yang akan terjadi. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari ilmu-Nya.
Lawan Sifat
الْجَهْلُ— Al-Jahl (ketidaktahuan). Mustahil Allah tidak mengetahui sesuatu.
Dalil & Artinya
أَنَّهُ لَوْ كَانَ جَاهِلًا لَمْ يَكُنْ مُرِيدًا، وَهُوَ مُحَالٌArtinya: “Seandainya Dia tidak mengetahui, niscaya Dia tidak memiliki kehendak; dan hal itu mustahil.”
Kesimpulan
Allah Maha Mengetahui seluruh perkara tanpa batas dan tanpa proses belajar. Tidak ada satu pun keadaan makhluk yang tersembunyi dari-Nya.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat kesembilan. Ilmu Allah sempurna dan berbeda dari pengetahuan makhluk yang terbatas.
10
الْحَيَاةُ Al-Ḥayāh
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الْحَيَاةُ، وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، تَصُحِّحُ لَهُ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَغَيْرِهِ مِنَ الصِّفَاتِ، وَضِدُّهَا الْمَوْتُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَيِّتًا لَمْ يَكُنْ قَادِرًا وَلَا مُرِيدًا وَلَا عَالِمًا، وَهُوَ مُحَالٌ.
Al-Ḥayāh
Allah Ta'ala wajib bersifat Hayah, yaitu hidup dengan kehidupan yang sesuai dengan keagungan-Nya.
Penjabaran & Pemahaman
Hayah Allah bukan seperti kehidupan makhluk yang membutuhkan jasad, organ, makanan, udara, atau proses biologis. Dalam pembahasan ilmu tauhid, Hayah adalah sifat yang menjadi dasar layaknya Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan seperti Ilmu, Qudrah, dan Iradah. Allah hidup dan tidak mengalami kematian.
Lawan Sifat
الْمَوْتُ— Al-Mawt (kematian). Mustahil Allah mengalami kematian.
Dalil & Artinya
أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَيِّتًا لَمْ يَكُنْ قَادِرًا وَلَا مُرِيدًا وَلَا عَالِمًا، وَهُوَ مُحَالٌArtinya: “Seandainya Dia mati, niscaya Dia tidak berkuasa, tidak berkehendak, dan tidak mengetahui; dan hal itu mustahil.”
Kesimpulan
Allah Ta'ala Maha Hidup, tidak didahului ketiadaan dan tidak diakhiri kematian. Kehidupan-Nya tidak menyerupai kehidupan makhluk.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat kesepuluh. Hayah berkaitan dengan kesempurnaan sifat-sifat ma'ani lainnya.
11
السَّمْعُ As-Sam‘
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى السَّمْعُ، وَهُوَ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَنْكَشِفُ بِهَا الْمَوْجُودُ، وَضِدُّهُ الصَّمَمُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
As-Sam‘
Allah Ta'ala wajib bersifat Sam', yaitu sifat yang dengannya segala sesuatu yang ada tidak tersembunyi dari-Nya.
Penjabaran & Pemahaman
Sam' Allah tidak berarti Allah mendengar menggunakan telinga atau alat seperti manusia. Teks matan menggunakan istilah “يَنْكَشِفُ بِهَا الْمَوْجُودُ”, yaitu yang ada menjadi tersingkap bagi sifat tersebut. Karena itu, jangan menyamakan pendengaran Allah dengan mekanisme pendengaran makhluk.
Lawan Sifat
الصَّمَمُ— Aṣ-Ṣamam (tuli). Mustahil Allah memiliki sifat tuli.
Dalil & Artinya
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُArtinya: “Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Kesimpulan
Allah Maha Mendengar tanpa alat dan tanpa batas seperti pendengaran makhluk. Tidak ada sesuatu yang ada yang tersembunyi dari-Nya.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat kesebelas. Dalam matan asli, Sam' dan Basar dibahas dalam satu rangkaian; pada database keduanya dipisahkan agar sesuai susunan 20 sifat.
12
الْبَصَرُ Al-Baṣar
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الْبَصَرُ، وَهُوَ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَنْكَشِفُ بِهَا الْمَوْجُودُ، وَضِدُّهُ الْعُمْيُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
Al-Baṣar
Allah Ta'ala wajib bersifat Basar, yaitu Maha Melihat seluruh yang ada.
Penjabaran & Pemahaman
Basar Allah tidak menggunakan mata atau organ seperti manusia. Penglihatan Allah sempurna dan tidak dibatasi jarak, arah, cahaya, atau keadaan fisik. Pemisahan baris ini adalah penyusunan database berdasarkan 20 sifat wajib yang lazim diajarkan, sedangkan matan Tijan menggabungkan Sam' dan Basar dalam satu paragraf.
Lawan Sifat
الْعُمْيُ— Al-‘Um-yu (buta). Mustahil Allah tidak melihat.
Dalil & Artinya
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُArtinya: “Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Kesimpulan
Allah Maha Melihat seluruh yang ada tanpa alat dan tanpa keterbatasan seperti penglihatan makhluk.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat kedua belas. Basar merupakan pasangan pembahasan Sam' dalam sifat ma'ani.
13
الْكَلَامُ Al-Kalām
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الْكَلَامُ، وَهُوَ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، وَلَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ، وَضِدُّهَا الْبُكْمُ وَهُوَ الْخَرَسُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا.
Al-Kalām
Allah Ta'ala wajib bersifat Kalam, yaitu memiliki sifat kalam yang sesuai dengan keagungan-Nya.
Penjabaran & Pemahaman
Dalam matan, Kalam disebut sebagai sifat qadim yang berdiri pada zat Allah dan bukan huruf maupun suara seperti ucapan makhluk. Karena itu, pembaca harus membedakan antara sifat Kalam Allah dan suara, huruf, atau alat yang digunakan manusia. Wahyu yang kita baca berupa lafaz yang diturunkan kepada nabi, sedangkan pembahasan sifat Kalam Allah memiliki makna khusus dalam ilmu tauhid.
Lawan Sifat
الْبُكْمُ/ الْخَرَسُ— Al-Bukm / Al-Kharas (bisu). Mustahil Allah tidak memiliki sifat Kalam.
Dalil & Artinya
وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًاArtinya: “Dan Allah benar-benar telah berbicara kepada Musa.”
Kesimpulan
Allah Ta'ala memiliki sifat Kalam yang qadim dan tidak menyerupai ucapan makhluk. Karena itu sifat Kalam tidak dipahami sebagai kebutuhan terhadap alat bicara.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat ketiga belas. Ini adalah sifat terakhir dari sifat ma'ani sebelum masuk ke sifat ma'nawiyyah.
14
كَوْنُهُ قَادِرًا Kaunuhu Qādiran
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ قَادِرًا، وَضِدُّهُ كَوْنُهُ عَاجِزًا، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ دَلِيلُ الْقُدْرَةِ.
Kaunuhu Qādiran
Allah Ta'ala wajib dalam keadaan sebagai Dzat Yang Mahakuasa.
Penjabaran & Pemahaman
Kaunuhu Qadiran merupakan sifat ma'nawiyyah yang menunjukkan konsekuensi dari adanya Qudrah pada Allah: Allah benar-benar bersifat sebagai Yang Mahakuasa. Jadi pembahasan ini tidak memperkenalkan kekuasaan yang berbeda dari Qudrah, melainkan menegaskan keadaan Allah sebagai Dzat yang memiliki Qudrah.
Lawan Sifat
كَوْنُهُ عَاجِزًا— Kaunuhu ‘Ājizan (keadaan-Nya lemah/tidak berkuasa).
Dalil & Artinya
دَلِيْلُ الْقُدْرَةِArtinya: “Dalilnya adalah dalil bagi sifat Qudrah.”
Kesimpulan
Allah benar-benar Mahakuasa. Sifat ini merupakan konsekuensi yang berkaitan dengan Qudrah.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat keempat belas. Ini termasuk sifat ma'nawiyyah.
15
كَوْنُهُ مُرِيدًا Kaunuhu Murīdan
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ مُرِيدًا، وَضِدُّهُ كَوْنُهُ كَارِهًا، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ دَلِيلُ الْإِرَادَةِ.
Kaunuhu Murīdan
Allah Ta'ala wajib dalam keadaan sebagai Dzat Yang Berkehendak.
Penjabaran & Pemahaman
Kaunuhu Muridan menegaskan bahwa Allah benar-benar memiliki kehendak. Ketika Iradah dibahas sebagai sifat, Kaunuhu Muridan menegaskan keadaan Allah sebagai Dzat yang bersifat dengan Iradah tersebut. Dengan kehendak Allah, perkara mumkin ditentukan pada keadaan tertentu.
Lawan Sifat
كَوْنُهُ كَارِهًا— Kaunuhu Kārihan (keadaan-Nya tidak berkehendak/menolak).
Dalil & Artinya
دَلِيْلُ الْإِرَادَةِArtinya: “Dalilnya adalah dalil bagi sifat Iradah.”
Kesimpulan
Allah adalah Dzat Yang Berkehendak dan tidak ada sesuatu yang memaksa kehendak-Nya.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat kelima belas. Ini termasuk sifat ma'nawiyyah yang berkaitan dengan Iradah.
16
كَوْنُهُ عَالِمًا Kaunuhu ‘Āliman
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ عَالِمًا، وَضِدُّهُ كَوْنُهُ جَاهِلًا، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ دَلِيلُ الْعِلْمِ.
Kaunuhu ‘Āliman
Allah Ta'ala wajib dalam keadaan sebagai Dzat Yang Mengetahui.
Penjabaran & Pemahaman
Kaunuhu Aliman adalah penegasan bahwa Allah benar-benar bersifat mengetahui. Ilmu Allah mencakup seluruh perkara tanpa didahului belajar dan tanpa terbatas oleh tempat, waktu, atau kemampuan indera. Sifat ini berkaitan dengan sifat Ilmu yang telah dibahas sebelumnya.
Lawan Sifat
كَوْنُهُ جَاهِلًا— Kaunuhu Jāhilan (keadaan-Nya tidak mengetahui).
Dalil & Artinya
دَلِيْلُ الْعِلْمِArtinya: “Dalilnya adalah dalil bagi sifat Ilmu.”
Kesimpulan
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada satu pun perkara yang luput dari ilmu-Nya.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat keenam belas. Ini termasuk sifat ma'nawiyyah.
17
كَوْنُهُ حَيًّا Kaunuhu Ḥayyan
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ حَيًّا، وَضِدُّهُ كَوْنُهُ مَيِّتًا، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ دَلِيلُ الْحَيَاةِ.
Kaunuhu Ḥayyan
Allah Ta'ala wajib dalam keadaan sebagai Dzat Yang Hidup.
Penjabaran & Pemahaman
Kaunuhu Hayyan menegaskan keadaan Allah sebagai Dzat Yang Hidup, sebagai konsekuensi dari sifat Hayah. Kehidupan Allah tidak seperti kehidupan makhluk yang berubah, membutuhkan tubuh, dan dapat berakhir.
Lawan Sifat
كَوْنُهُ مَيِّتًا— Kaunuhu Mayyitan (keadaan-Nya mati).
Dalil & Artinya
دَلِيْلُ الْحَيَاةِArtinya: “Dalilnya adalah dalil bagi sifat Hayah.”
Kesimpulan
Allah Ta'ala Maha Hidup dan tidak mengalami kematian.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat ketujuh belas. Ini termasuk sifat ma'nawiyyah yang berkaitan dengan Hayah.
18
كَوْنُهُ سَمِيعًا Kaunuhu Samī‘an
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ سَمِيعًا، وَضِدُّهُ كَوْنُهُ أَصَمَّ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ دَلِيلُ السَّمْعِ.
Kaunuhu Samī‘an
Allah Ta'ala wajib dalam keadaan sebagai Dzat Yang Maha Mendengar.
Penjabaran & Pemahaman
Kaunuhu Sami'an menegaskan keadaan Allah sebagai Dzat yang memiliki sifat Sam'. Pendengaran Allah tidak membutuhkan telinga, gelombang suara, jarak, atau alat. Pemisahan dari Kaunuhu Basiran dibuat agar database mengikuti susunan 20 sifat yang diajarkan secara terpisah.
Lawan Sifat
كَوْنُهُ أَصَمَّ— Kaunuhu Aṣamma (keadaan-Nya tuli).
Dalil & Artinya
دَلِيْلُ السَّمْعِArtinya: “Dalilnya adalah dalil bagi sifat Sam'.”
Kesimpulan
Allah Maha Mendengar tanpa keterbatasan dan tanpa alat seperti makhluk.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat kedelapan belas. Dalam matan Tijan, Kaunuhu Sami'an dan Kaunuhu Basiran disebut dalam satu rangkaian.
19
كَوْنُهُ بَصِيرًا Kaunuhu Baṣīran
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ بَصِيرًا، وَضِدُّهُ كَوْنُهُ أَعْمَى، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ دَلِيلُ الْبَصَرِ.
Kaunuhu Baṣīran
Allah Ta'ala wajib dalam keadaan sebagai Dzat Yang Maha Melihat.
Penjabaran & Pemahaman
Kaunuhu Basiran menegaskan keadaan Allah sebagai Dzat yang memiliki sifat Basar. Allah melihat seluruh yang ada tanpa organ dan tanpa keterbatasan seperti penglihatan manusia.
Lawan Sifat
كَوْنُهُ أَعْمَى— Kaunuhu A‘mā (keadaan-Nya buta).
Dalil & Artinya
دَلِيْلُ الْبَصَرِArtinya: “Dalilnya adalah dalil bagi sifat Basar.”
Kesimpulan
Allah Maha Melihat seluruh yang ada dan tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat kesembilan belas. Ini adalah sifat ma'nawiyyah yang berkaitan dengan Basar.
20
كَوْنُهُ مُتَكَلِّمًا Kaunuhu Mutakalliman
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ مُتَكَلِّمًا، وَضِدُّهُ كَوْنُهُ أَبْكَمَ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ دَلِيلُ الْكَلَامِ.
Kaunuhu Mutakalliman
Allah Ta'ala wajib dalam keadaan sebagai Dzat Yang Memiliki Kalam.
Penjabaran & Pemahaman
Kaunuhu Mutakalliman menegaskan keadaan Allah sebagai Dzat yang bersifat Kalam. Ini merupakan sifat ma'nawiyyah yang berkaitan dengan Kalam. Pemahaman sifat ini harus mengikuti pembahasan tauhid dan tidak menyerupakan Kalam Allah dengan ucapan makhluk.
Lawan Sifat
كَوْنُهُ أَبْكَمَ— Kaunuhu Abkama (keadaan-Nya bisu).
Dalil & Artinya
دَلِيْلُ الْكَلَامِArtinya: “Dalilnya adalah dalil bagi sifat Kalam.”
Kesimpulan
Allah Ta'ala memiliki sifat Kalam yang sesuai dengan keagungan-Nya dan tidak menyerupai sifat berbicara makhluk.
Keterangan
Keterangan pembahasan sifat kedua puluh. Dengan ini lengkap dua puluh sifat wajib Allah yang lazim dipelajari dalam ilmu tauhid.