← Kembali ke Kitab
Cover Sullam At-Taufiq
KITAB

Sullam At-Taufiq

Karya Sayyid Abdullah bin Husain bin Thahir Ba'Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i
Sullam At-Taufiq ila Mahabbatillah 'ala At-Tahqiq adalah ringkasan yang membahas pokok agama, fikih, penyucian jiwa, maksiat, dan taubat. Data digital ini mempertahankan matan Arab sebagai teks utama dan memisahkan terjemah, penjabaran, dalil, serta kesimpulan sebagai lapisan pembelajaran.
BAGIAN 06
بَابُ الصَّوْمِ
Bābuṣ-Ṣawm
Bab Puasa
Tampilan: Arab + Latin + Terjemah + Penjelasan
1
Pembahasan 1
يَجِبُ صَوْمُ شَهْرِ رَمَضانَ على كُلِّ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ؛ ولا يَصِحُّ مِنْ حائِضٍ ونُفَساءَ، ويَجِبُ عليهما القَضاءُ؛ ويَجُوزُ الفِطْرُ لِمُسافِرٍ سَفَرَ قَصْرٍ، ولمَرِيضٍ، وحامِلٍ، ومُرْضِعٍ بِالتَّفْصِيلِ.
yajibu ṣawmu shahri ramaḍāna ʿlā kulli muslimin mukallafin؛ wlā yaṣiḥḥu min ḥāʾiḍin wnufasāʾa، wyajibu ʿlyhmā alqaḍāʾu؛ wyajuwzu alfiṭru limusāfirin safara qaṣrin، wlmariyḍin، wḥāmilin، wmurḍiʿin biālttafṣiyli.
Puasa Ramadan wajib atas setiap muslim mukallaf. Haid dan nifas menghalangi sahnya puasa dan mengharuskan qadha. Musafir, orang sakit, ibu hamil, dan ibu menyusui memiliki rincian hukum rukhsah dan qadha sesuai keadaan.
Penjabaran & Pemahaman
Rukhsah puasa tidak boleh dipahami secara serampangan. Sebab, rincian berbeda menurut keadaan seseorang dan ketentuan fikih.
Dalil & Artinya
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ\n\nArtinya: Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa. (QS. Al-Baqarah: 183)
Kesimpulan
Puasa Ramadan adalah kewajiban bagi mukallaf dengan adanya ketentuan dan uzur yang dijelaskan syariat.
Keterangan
Puasa Ramadan wajib, sementara sebagian keadaan memberikan keringanan dengan kewajiban pengganti sesuai rincian hukum.
2
Pembahasan 2
ويَجِبُ التَّبْيِيتُ والتَّعْيينُ في النِّيَّةِ لِكُلِّ يَوْمٍ، والإمْساكُ عن الجِماعِ، والاستِمْناءِ، والاستِقاءَةِ، والرِّدَّةِ، وعَنْ دُخُولِ عَيْنٍ جَوْفًا.
wyajibu alttabyiytu wālttaʿyynu fy alnniyyahi likulli yawmin، wālimsāku ʿn aljimāʿi، wālāstimnāʾi، wālāstiqāʾahi، wālrriddahi، wʿan dukhuwli ʿaynin jawfanā.
Wajib melakukan niat pada malam hari dan menentukan jenis puasa fardu untuk setiap hari. Orang yang berpuasa wajib menahan diri dari jima, sengaja mengeluarkan mani, sengaja muntah, riddah, dan masuknya benda ke rongga tubuh dengan rincian yang disebutkan fikih.
Penjabaran & Pemahaman
Ketentuan niat dan pembatal puasa perlu dipahami bersama rincian mazhab agar tidak salah dalam praktik.
Dalil & Artinya
فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ\n\nArtinya: Sesungguhnya Aku dekat dan Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah: 186)
Kesimpulan
Puasa bukan hanya meninggalkan makan dan minum, tetapi juga menjaga seluruh tindakan dari pembatal dan maksiat.
Keterangan
Puasa sah dengan memenuhi niat dan meninggalkan perkara yang membatalkannya.
3
Pembahasan 3
ولا يَصِحُّ صَوْمُ العِيدَيْنِ، وأيّامِ التَّشْرِيقِ، وكَذا النِّصْفُ الأَخِيرُ مِنْ شَعْبانَ ويَومُ الشَّكِّ، إلّا في صُوَرٍ اسْتَثْناها الفُقَهاءُ.
wlā yaṣiḥḥu ṣawmu alʿiydayni، wayyāmi alttashriyqi، wkadhā alnniṣfu alaakhiyru min shaʿbāna wyawmu alshshakki، illā fy ṣuwarin astathnāhā alfuqahāʾu.
Tidak sah dan tidak boleh berpuasa pada dua hari raya dan hari-hari tasyrik. Pada akhir Sya'ban dan hari syak terdapat rincian pengecualian yang dijelaskan para fuqaha.
Penjabaran & Pemahaman
Larangan puasa pada waktu tertentu menunjukkan bahwa ibadah harus dilakukan sesuai waktu dan bentuk yang ditetapkan syariat.
Dalil & Artinya
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ\n\nArtinya: Rasulullah melarang puasa pada dua hari: Idul Fitri dan Idul Adha.
Kesimpulan
Seorang muslim harus mengetahui waktu-waktu yang dilarang untuk berpuasa.
Keterangan
Ibadah puasa harus mengikuti waktu yang ditentukan syariat.