← Kembali ke Kitab
Cover Kifayatul Awam
KITAB

Kifayatul Awam

Karya Muhammad bin Syafi'i Al-Fudhali Asy-Syafi'i
Kitab tauhid yang membahas dasar-dasar aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, lima puluh aqidah beserta dalilnya, sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah dan para rasul, serta sejumlah perkara sam'iyyat.
BAGIAN 01
مُقَدِّمَةُ كِفَايَةِ الْعَوَامِ
Muqaddimah Kifayatul Awam
Pendahuluan Kifayatul Awam
Tampilan: Arab + Latin + Terjemah + Penjelasan
1
Kewajiban Mengetahui Lima Puluh Aqidah
اعْلَمْ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَعْرِفَ خَمْسِينَ عَقِيدَةً، وَكُلُّ عَقِيدَةٍ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَ لَهَا دَلِيلًا إِجْمَالِيًّا أَوْ تَفْصِيلِيًّا.
I'lam annahu yajibu 'ala kulli muslimin an ya'rifa khamsina 'aqidatan, wa kullu 'aqidatin yajibu 'alaihi an ya'rifa laha dalilan ijmaliyyan aw tafsiliyyan.
Ketahuilah bahwa setiap muslim wajib mengetahui lima puluh aqidah, dan setiap aqidah wajib baginya diketahui dalilnya, baik secara global maupun terperinci.
Penjabaran & Pemahaman
Pengarang menjadikan pengetahuan aqidah sebagai kewajiban dasar. Yang dituntut bukan sekadar menghafal nama sifat, tetapi memiliki keyakinan yang benar serta mengetahui dasar yang menopangnya. Dalil ijmali cukup menurut pendapat jumhur, sedangkan dalil tafsili memberikan pemahaman yang lebih terperinci.
Dalil & Artinya
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَArtinya: Katakanlah, 'Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata.' (QS. Yusuf: 108)
Kesimpulan
Aqidah harus dipelajari dengan keyakinan dan dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Lima puluh aqidah menjadi kerangka pokok yang harus dikenal oleh seorang mukallaf.
Keterangan
Pembagian lima puluh aqidah dalam kitab: 20 wajib bagi Allah, 20 mustahil bagi Allah, 1 jaiz bagi Allah, 4 wajib bagi rasul, 4 mustahil bagi rasul, dan 1 jaiz bagi rasul.
2
Pengertian Dalil Ijmali dan Tafsili
الدَّلِيلُ التَّفْصِيلِيُّ أَنْ يُذْكَرَ وَجْهُ دَلَالَةِ الدَّلِيلِ عَلَى الْمَدْلُولِ، وَالدَّلِيلُ الْإِجْمَالِيُّ أَنْ يُعْرَفَ الدَّلِيلُ مِنْ غَيْرِ تَفْصِيلِ وَجْهِ دَلَالَتِهِ.
Ad-dalilut-tafsiliyyu an yudhkara wajhu dalalatid-dalili 'alal-madlul, wad-dalilul-ijmaliyyu an yu'rafa ad-dalilu min ghairi tafsili wajhi dalalatihi.
Dalil tafsili adalah dalil yang disertai penjelasan bagaimana dalil itu menunjukkan perkara yang didalili. Dalil ijmali adalah mengetahui dalilnya tanpa menguraikan secara terperinci sisi penunjukannya.
Penjabaran & Pemahaman
Contoh yang diberikan pengarang berkaitan dengan keberadaan Allah: makhluk merupakan dalil. Jika seseorang mampu menjelaskan bahwa makhluk menunjukkan adanya Pencipta karena makhluk bersifat mungkin atau muncul setelah sebelumnya tidak ada, itu dalil tafsili. Jika hanya mengetahui bahwa makhluk menunjukkan adanya Allah tanpa mampu menguraikan sisi penunjukannya, itu dalil ijmali.
Dalil & Artinya
أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِArtinya: Apakah ada keraguan tentang Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10)
Kesimpulan
Dalil ijmali merupakan batas kecukupan menurut jumhur, sedangkan memahami dalil secara tafsili lebih kuat untuk membangun pemahaman aqidah.
3
Hukum Taqlid dalam Aqidah
وَأَمَّا التَّقْلِيدُ وَهُوَ أَنْ يَعْرِفَ الْعَقَائِدَ الْخَمْسِينَ وَلَمْ يَعْرِفْ لَهَا دَلِيلًا إِجْمَالِيًّا أَوْ تَفْصِيلِيًّا فَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِيهِ.
Wa ammat-taqlidu wa huwa an ya'rifal-'aqa'idal-khamsina wa lam ya'rif laha dalilan ijmaliyyan aw tafsiliyyan fakhtalafal-'ulama'u fihi.
Adapun taqlid, yaitu mengetahui lima puluh aqidah tetapi tidak mengetahui dalil global maupun terperincinya, maka para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya.
Penjabaran & Pemahaman
Pembahasan ini menunjukkan bahwa persoalan taqlid dalam aqidah memiliki rincian dalam khazanah ilmu kalam. Pengarang menyebut adanya perbedaan pendapat, sehingga pembaca tidak boleh menyederhanakan masalah ini tanpa memahami pendapat ulama yang dibahas.
Dalil & Artinya
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَArtinya: Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 43)
Kesimpulan
Seorang muslim hendaknya berusaha memperkuat keyakinannya dengan ilmu dan dalil, serta belajar kepada ulama yang terpercaya.
4
Hukum Akal: Wajib
الْوَاجِبُ هُوَ الَّذِي لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ عَدَمُهُ.
Al-wajibu huwalladzi la yutasawwaru fil-'aqli 'adamuhu.
Wajib secara istilah akal adalah sesuatu yang secara akal tidak mungkin dibayangkan ketiadaannya.
Penjabaran & Pemahaman
Istilah wajib di sini berbeda dengan wajib syar'i. Wajib dalam hukum akal berkaitan dengan kemustahilan akal menerima ketiadaan suatu perkara. Karena itu ketika dikatakan 'wujud Allah wajib', maksudnya akal tidak dapat menerima Allah tidak ada.
Dalil & Artinya
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَاArtinya: Seandainya pada keduanya ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan rusak. (QS. Al-Anbiya: 22)
Kesimpulan
Wajib akli adalah kategori penalaran yang digunakan untuk memahami perkara aqidah, bukan definisi hukum fikih.
5
Hukum Akal: Mustahil
وَالْمُسْتَحِيلُ هُوَ الَّذِي لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ وُجُودُهُ.
Wal-mustahilu huwalladzi la yutasawwaru fil-'aqli wujuduhu.
Mustahil secara akal adalah sesuatu yang tidak dapat dibayangkan keberadaannya secara benar oleh akal.
Penjabaran & Pemahaman
Mustahil merupakan lawan dari wajib. Dalam aqidah, sifat-sifat kekurangan yang tidak layak bagi Allah ditempatkan dalam kategori mustahil, seperti tidak ada, baru, binasa, lemah, dan menyerupai makhluk.
Dalil & Artinya
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌArtinya: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. (QS. Asy-Syura: 11)
Kesimpulan
Memahami mustahil membantu seorang mukallaf menolak keyakinan yang bertentangan dengan kesempurnaan Allah.
6
Hukum Akal: Jaiz
وَالْجَائِزُ هُوَ الَّذِي يَصِحُّ فِي الْعَقْلِ وُجُودُهُ وَعَدَمُهُ.
Wal-ja'izu huwalladzi yashihhu fil-'aqli wujuduhu wa 'adamuhu.
Jaiz secara akal adalah sesuatu yang keberadaannya dan ketiadaannya sama-sama dapat diterima oleh akal.
Penjabaran & Pemahaman
Jaiz berada di antara wajib dan mustahil. Dalam pembahasan sifat Allah, perkara jaiz bukan berarti Allah membutuhkan sesuatu atau terpaksa melakukannya, tetapi menunjukkan bahwa Allah berkuasa melakukan atau meninggalkan perkara-perkara mumkin sesuai kehendak-Nya.
Dalil & Artinya
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُArtinya: Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih. (QS. Al-Qashash: 68)
Kesimpulan
Jaiz adalah kategori yang menerima ada dan tidak ada; dalam hak Allah, semua mumkin berada di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya.