← Kembali ke Kitab
Cover Safinatun Najah
KITAB

Safinatun Najah

Karya Syekh Salim bin Abdullah bin Saad bin Sumair Al-Hadhrami
Matan dasar dalam mazhab Syafi‘i yang memuat pokok akidah dan fikih ibadah: thaharah, shalat, jenazah, zakat, dan puasa. Versi digital ini memisahkan lafaz matan dari terjemah, penjabaran, dalil pendukung, kesimpulan, dan catatan pembelajaran.
BAGIAN 03
بَابُ الطَّهَارَةِ
Bābut-Ṭahārah
Bab Bersuci
Tampilan: Arab + Latin + Terjemah + Penjelasan
1
عَلَامَاتُ الْبُلُوغِ ‘Alāmātul-Bulūgh
عَلَامَاتُ الْبُلُوغِ ثَلَاثٌ: تَمَامُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً فِي الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى، وَالِاحْتِلَامُ فِي الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِينَ، وَالْحَيْضُ فِي الْأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِينَ.
‘Alāmātul-bulūghi thalāthah
Tanda baligh ada tiga: mencapai lima belas tahun, mengalami ihtilam setelah usia sembilan tahun, dan haid bagi perempuan setelah usia sembilan tahun.
Penjabaran & Pemahaman
Baligh menandai mulai berlakunya taklif dengan ketentuan fikih yang dibahas dalam kitab.
Lawan Sifat
Belum mencapai tanda baligh.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ.
Artinya: “Pena (catatan taklif) diangkat dari tiga orang: orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia baligh, dan orang gila sampai ia berakal.” (HR. Abu Dawud dan lainnya).
Penjelasan: hadis ini menunjukkan hubungan antara baligh dan mulai berlakunya taklif. Matan kemudian menyebut tanda-tanda baligh yang dikenal dalam fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Memahami tanda baligh membantu seseorang mengetahui kapan kewajiban syariat berlaku secara penuh.
2
شُرُوطُ إِجْزَاءِ الْحَجَرِ Syarūṭul-Istinِjā'
شُرُوطُ إِجْزَاءِ الْحَجَرِ ثَمَانِيَةٌ: أَنْ يَكُونَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، وَأَنْ يُنَقِّيَ الْمَحَلَّ، وَأَنْ لَا يَجِفَّ النَّجَسُ، وَأَنْ لَا يَنْتَقِلَ، وَأَنْ لَا يُجَاوِزَ مَحَلَّهُ، وَأَنْ لَا يُصِبْهُ مَاءٌ، وَأَنْ تَكُونَ الْأَحْجَارُ طَاهِرَةً.
Syurūṭu ijzā'il-ḥajari tsamāniyah
Syarat penggunaan batu untuk beristinja ada delapan: menggunakan tiga batu; membersihkan tempat keluarnya najis; najis belum mengering; najis tidak berpindah dari tempatnya; najis tidak terkena sesuatu yang lain; najis tidak melewati tempat yang semestinya; tempat tersebut tidak terkena air; dan batu yang digunakan harus suci.
Penjabaran & Pemahaman
Istinja dengan benda padat memiliki ketentuan agar pembersihan dianggap sah menurut pembahasan matan.
Lawan Sifat
Mengabaikan syarat-syarat istinja.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لَا تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ وَلَا بِالْعِظَامِ، فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنَ الْجِنِّ».
Artinya: “Janganlah kalian beristinja dengan kotoran hewan dan jangan pula dengan tulang, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian dari golongan jin.” (HR. Muslim).
Penjelasan: hadis ini menunjukkan adanya aturan mengenai alat yang boleh digunakan untuk istinja. Rincian syarat penggunaan batu yang delapan merupakan rincian fikih dalam matan.
Kesimpulan
Tujuan istinja adalah menghilangkan najis dengan cara yang memenuhi ketentuan.
3
فُرُوضُ الْوُضُوءِ Furūḍul-Wuḍū'
فُرُوضُ الْوُضُوءِ سِتَّةٌ: النِّيَّةُ، وَغَسْلُ الْوَجْهِ، وَغَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ، وَمَسْحُ شَيْءٍ مِنَ الرَّأْسِ، وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ، وَالتَّرْتِيبُ.
Furūḍul-wuḍū'i sittah
Fardhu wudhu ada enam: pertama, niat; kedua, membasuh wajah; ketiga, membasuh kedua tangan sampai kedua siku; keempat, mengusap sebagian kepala; kelima, membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki; keenam, tertib.
Penjabaran & Pemahaman
Enam rukun ini menjadi unsur pokok wudhu. Jika salah satu rukun yang wajib ditinggalkan, wudhu tidak sempurna menurut ketentuan matan.
Lawan Sifat
Meninggalkan salah satu rukun wudhu.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian sampai siku, sapulah kepala kalian dan basuhlah kaki kalian sampai kedua mata kaki. Jika kalian junub maka mandilah. Jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang di antara kalian datang dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik, lalu usaplah wajah dan tangan kalian dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak menyucikan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada kalian agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Ma’idah: 6).
Penjelasan: ayat ini mencakup wudhu, mandi janabah, dan tayamum; rincian hukum pada masing-masing fasal dijelaskan oleh matan dan hadis-hadis Nabi .
Kesimpulan
Wudhu harus dilakukan dengan memenuhi seluruh rukun dan urutannya.
4
النِّيَّةُ وَالتَّرْتِيبُ An-Niyyah wat-Tartīb
النِّيَّةُ: قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ، وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ، وَالتَّلَفُّظُ بِهَا سُنَّةٌ، وَالتَّرْتِيبُ: أَنْ لَا يُقَدَّمَ عُضْوٌ عَلَى عُضْوٍ.
An-niyyatu: qaṣdusy-syai'i muqtarinan bifi'lihi. Wat-tartīb...
Niat adalah menyengaja suatu perbuatan bersamaan dengan pelaksanaannya; tempat niat adalah hati. Melafalkan niat hukumnya sunnah. Tertib berarti tidak mendahulukan anggota sebelum anggota yang lain.
Penjabaran & Pemahaman
Niat membedakan ibadah dari sekadar aktivitas biasa. Tertib menjaga urutan rukun wudhu sebagaimana ditetapkan.
Lawan Sifat
Melakukan wudhu tanpa niat atau mengacak urutan rukun.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَىArtinya: “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar bahwa niat berkaitan dengan amal. Matan menjelaskan tempat niat dan waktu niat dalam wudhu serta makna tertib.
Kesimpulan
Niat berada di hati dan tertib termasuk rukun wudhu.
5
الْمَاءُ قَلِيلٌ وَكَثِيرٌ Al-Mā'u Qalīlun wa Katsīr
الْمَاءُ: قَلِيلٌ وَكَثِيرٌ، فَالْقَلِيلُ مَا دُونَ الْقُلَّتَيْنِ، وَالْكَثِيرُ قُلَّتَانِ فَأَكْثَرُ.
Al-mā'u qalīlun wa katsīr
Air terbagi menjadi sedikit dan banyak. Air sedikit adalah kurang dari dua qullah, sedangkan air banyak adalah dua qullah atau lebih.
Penjabaran & Pemahaman
Matan menjelaskan perbedaan hukum air sedikit dan banyak ketika terkena najis, dengan ukuran dua qullah sebagai pembatas yang dibahas dalam fikih Syafi'i.
Lawan Sifat
Menganggap seluruh air memiliki hukum yang sama tanpa memperhatikan pembagian yang dibahas.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
«إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ».
Artinya: “Apabila air mencapai dua qullah, ia tidak membawa najis.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan lainnya; hadis ini menjadi dasar pembahasan ukuran air dalam fikih).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar pembahasan air dua qullah dalam mazhab Syafi‘i. Matan kemudian membedakan air sedikit dan air banyak serta hukum ketika terkena najis.
Kesimpulan
Pemahaman jenis air penting sebelum digunakan untuk bersuci.
6
مُوجِبَاتُ الْغُسْلِ Mūjibātul-Ghusl
مُوجِبَاتُ الْغُسْلِ سِتَّةٌ: إِيلَاجُ الْحَشَفَةِ فِي الْفَرْجِ، وَخُرُوجُ الْمَنِيِّ، وَالْحَيْضُ، وَالنِّفَاسُ، وَالْوِلَادَةُ، وَالْمَوْتُ.
Mūjibātul-ghusli sittah
Hal-hal yang mewajibkan mandi ada enam: hubungan seksual dengan masuknya hasyafah, keluarnya mani, haid, nifas, melahirkan, dan kematian.
Penjabaran & Pemahaman
Mandi wajib berkaitan dengan keadaan hadas besar atau kewajiban yang ditetapkan syariat. Matan menyebut enam sebab utama.
Lawan Sifat
Menganggap mandi wajib tidak diperlukan ketika salah satu sebabnya terjadi.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُواArtinya: “Dan jika kalian dalam keadaan junub, maka bersucilah.” (QS. Al-Ma’idah: 6).
Penjelasan: ayat ini menjadi dasar kewajiban mandi bagi orang yang berada dalam keadaan junub. Adapun enam sebab yang disebut matan merupakan rincian hukum fikih.
Kesimpulan
Ketika salah satu sebab mandi wajib terjadi, seorang muslim perlu mengetahui hukum dan tata cara mandi wajib.
7
فُرُوضُ الْغُسْلِ Furūḍul-Ghusl
فُرُوضُ الْغُسْلِ اثْنَانِ: النِّيَّةُ وَتَعْمِيمُ الْبَدَنِ بِالْمَاءِ.
Furūḍul-ghusli itsnān
Rukun mandi ada dua: niat dan meratakan air ke seluruh tubuh.
Penjabaran & Pemahaman
Mandi wajib harus memenuhi dua unsur pokok tersebut. Perhatian diberikan agar seluruh bagian tubuh terkena air sesuai ketentuan.
Lawan Sifat
Tidak berniat atau tidak meratakan air ke seluruh tubuh.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُواArtinya: “Dan jika kalian dalam keadaan junub, maka bersucilah.” (QS. Al-Ma’idah: 6).
Penjelasan: perintah bersuci dari janabah menjadi dasar mandi wajib. Matan kemudian merumuskan dua unsur pokok mandi, yaitu niat dan meratakan air ke seluruh tubuh.
Kesimpulan
Kesempurnaan mandi wajib bergantung pada niat dan sampainya air ke seluruh badan.
8
شُرُوطُ الْوُضُوءِ Syurūṭul-Wuḍū'
شُرُوْطُ الوُضُوْءِ عَشَرَةٌ: الإِسْلَامُ، وَالتَّمْيِيزُ، وَالنَّقَاءُ عَنِ الحَيْضِ وَالنِّفَاسِ، وَعَمَّا يَمْنَعُ وُصُوْلَ المَاءِ إِلَى البَشَرَةِ، وَأَنْ لَا يَكُوْنَ عَلَى العُضْوِ مَا يُغَيِّرُ المَاءَ، وَالعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهِ، وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فُرُوْضِهِ سُنَّةً، وَالمَاءُ الطَّهُوْرُ، وَدُخُوْلُ الوَقْتِ، وَالمُوَالَاةُ لِدَائِمِ الحَدَثِ.
Syurūṭul-wuḍū'i ‘asyarah
Syarat wudhu ada sepuluh: Islam; tamyiz; suci dari haid dan nifas; tidak terdapat sesuatu yang menghalangi sampainya air ke kulit; tidak terdapat pada anggota sesuatu yang mengubah sifat air; mengetahui bahwa wudhu itu wajib; tidak meyakini salah satu fardhu wudhu sebagai sunnah; menggunakan air yang suci lagi menyucikan; telah masuk waktu; dan menjaga muwalat bagi orang yang selalu berhadats.
Penjabaran & Pemahaman
Syarat memastikan ibadah dilakukan dalam keadaan yang memenuhi ketentuan sebelum rukun dikerjakan.
Lawan Sifat
Mengabaikan syarat sah wudhu.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian sampai siku, sapulah kepala kalian dan basuhlah kaki kalian sampai kedua mata kaki. Jika kalian junub maka mandilah. Jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang di antara kalian datang dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik, lalu usaplah wajah dan tangan kalian dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak menyucikan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada kalian agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Ma’idah: 6).
Penjelasan: ayat ini mencakup wudhu, mandi janabah, dan tayamum; rincian hukum pada masing-masing fasal dijelaskan oleh matan dan hadis-hadis Nabi .
Kesimpulan
Syarat sah perlu diperhatikan sebelum dan selama pelaksanaan wudhu.
9
نَوَاقِضُ الْوُضُوءِ Nawāqiḍul-Wuḍū'
نَوَاقِضُ الْوُضُوءِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الْخَارِجُ مِنْ أَحَدِ السَّبِيلَيْنِ، وَزَوَالُ الْعَقْلِ بِنَوْمٍ أَوْ غَيْرِهِ، وَالْتِقَاءُ بَشَرَتَيْ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ كَبِيرَيْنِ أَجْنَبِيَّيْنِ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ، وَمَسُّ قُبُلِ الْآدَمِيِّ أَوْ حَلْقَةِ دُبُرِهِ بِبَطْنِ الرَّاحَةِ أَوْ بُطُونِ الْأَصَابِعِ.
Nawāqiḍul-wuḍū'i arba‘ah
Pembatal wudhu ada empat: sesuatu yang keluar dari dua jalan, hilangnya akal, bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan ajnabi tanpa penghalang menurut rincian matan, dan menyentuh kemaluan atau lingkaran dubur dengan telapak tangan atau bagian dalam jari.
Penjabaran & Pemahaman
Mengetahui pembatal wudhu membantu menjaga kesucian sebelum shalat.
Lawan Sifat
Menganggap wudhu tetap ada setelah salah satu pembatal terjadi.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
لَا يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ.
Artinya: “Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian apabila ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menunjukkan hubungan antara hadats dan kewajiban bersuci. Adapun empat pembatal wudhu yang disebutkan matan merupakan rincian hukum fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Setelah pembatal wudhu terjadi, wudhu perlu diperbarui sebelum ibadah yang mensyaratkannya.
10
مَا يَحْرُمُ بِالْحَدَثِ وَالْجُنُبِ وَالْحَيْضِ Mā Yaḥrumu bil-Ḥadats wal-Junub wal-Ḥaiḍ
مَنِ انْتَقَضَ وُضُوْؤُهُ حَرُمَ عَلَيْهِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلَاةُ، وَالطَّوَافُ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ، وَحَمْلُهُ. وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: الصَّلَاةُ، وَالطَّوَافُ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ، وَحَمْلُهُ، وَاللُّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ. وَيَحْرُمُ بِالْحَيْضِ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلَاةُ، وَالطَّوَافُ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ، وَحَمْلُهُ، وَاللُّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، وَالصَّوْمُ، وَالطَّلَاقُ، وَالْمُرُورُ فِي الْمَسْجِدِ إِنْ خَافَتْ تَلْوِيثَهُ، وَالِاسْتِمْتَاعُ بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ.
Mā Yaḥrumu bil-Ḥadats wal-Junub wal-Ḥaiḍ
Orang yang wudhunya batal memiliki empat larangan: shalat, thawaf, menyentuh mushaf, dan membawanya. Orang junub memiliki enam larangan sebagaimana disebutkan matan: shalat, thawaf, menyentuh mushaf, membawa mushaf, berdiam di masjid, dan membaca Al-Qur'an. Perempuan yang sedang haid memiliki sepuluh larangan sebagaimana rincian matan: shalat, thawaf, menyentuh dan membawa mushaf, berdiam di masjid, membaca Al-Qur'an, puasa, talak, melewati masjid jika dikhawatirkan mengotorinya, dan bersenang-senang antara pusar dan lutut.
Penjabaran & Pemahaman
Pembahasan ini menunjukkan hubungan antara thaharah dan ibadah yang mensyaratkan kesucian.
Lawan Sifat
Melakukan ibadah yang mensyaratkan wudhu tanpa wudhu.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN DAN HADIS
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُواArtinya: “Dan jika kalian dalam keadaan junub, maka bersucilah.” (QS. Al-Ma’idah: 6).
وَلَا يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ.
Artinya: “Tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci.” (HR. Malik dalam al-Muwaththa’; status dan pemahaman hadis ini dibahas dalam fikih).
Penjelasan: dalil-dalil tersebut menjadi dasar pembahasan kesucian sebelum ibadah dan adab terhadap mushaf. Rincian larangan bagi orang berhadats, junub, dan haid mengikuti matan dan fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Kesucian dari hadas kecil merupakan syarat penting bagi ibadah tertentu.
11
أَسْبَابُ التَّيَمُّمِ Asbābut-Tayammum
أَسْبَابُ التَّيَمُّمِ ثَلَاثَةٌ: فَقْدُ الْمَاءِ، وَالْمَرَضُ، وَالِاحْتِيَاجُ إِلَيْهِ لِعَطَشِ حَيَوَانٍ مُحْتَرَمٍ.
Asbābut-tayammumi tsalātsah
Sebab yang membolehkan tayamum ada tiga: tidak adanya air, adanya penyakit yang menghalangi penggunaan air, dan kebutuhan air untuk minum makhluk yang dihormati.
Penjabaran & Pemahaman
Tayamum merupakan pengganti bersuci dengan air dalam keadaan yang dibenarkan syariat.
Lawan Sifat
Bertayamum tanpa sebab yang dibenarkan.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُArtinya: “Jika kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci), lalu usaplah wajah dan tangan kalian dengannya...” (QS. Al-Ma’idah: 6).
Penjelasan: ayat ini menjadi dasar pensyariatan tayamum ketika air tidak tersedia atau terdapat uzur yang diakui syariat.
Kesimpulan
Tayamum adalah rukhsah, bukan pengganti tanpa alasan.
12
شُرُوطُ التَّيَمُّمِ Syurūṭut-Tayammum
شُرُوطُ التَّيَمُّمِ عَشَرَةٌ: أَنْ يَكُونَ بِتُرَابٍ، وَأَنْ يَكُونَ التُّرَابُ طَاهِرًا، وَأَنْ يَكُونَ مُسْتَعْمَلًا، وَأَنْ لَا يُخَالِطَهُ دَقِيقٌ وَنَحْوُهُ، وَأَنْ يَقْصِدَهُ، وَأَنْ يَمْسَحَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ بِضَرْبَتَيْنِ، وَأَنْ يُزِيلَ النَّجَاسَةَ أَوَّلًا، وَأَنْ يَجْتَهِدَ فِي الْقِبْلَةِ قَبْلَهُ، وَأَنْ يَكُونَ بَعْدَ دُخُولِ الْوَقْتِ، وَأَنْ يَتَيَمَّمَ لِكُلِّ فَرْضٍ.
Syurūṭut-tayammumi ‘asyarah
Syarat tayamum berjumlah sepuluh sebagaimana dirinci dalam matan, termasuk menggunakan tanah yang suci, niat, dua kali penggunaan tanah untuk usapan, menghilangkan najis terlebih dahulu, dan dilakukan setelah masuk waktu fardhu.
Penjabaran & Pemahaman
Tayamum tanpa memenuhi syarat tidak dianggap sebagai tayamum yang sah menurut pembahasan matan.
Lawan Sifat
Matan Safinatun Najah, Bab Bersuci Fasal 12.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُArtinya: “Jika kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci), lalu usaplah wajah dan tangan kalian dengannya...” (QS. Al-Ma’idah: 6).
Penjelasan: ayat ini menjadi dasar media dan cara pokok tayamum; rincian sepuluh syarat mengikuti matan fikih Syafi‘i.
13
فُرُوضُ التَّيَمُّمِ Furūḍut-Tayammum
فُرُوضُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةٌ: نَقْلُ التُّرَابِ، وَالنِّيَّةُ، وَمَسْحُ الْوَجْهِ، وَمَسْحُ الْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، وَالتَّرْتِيبُ بَيْنَ الْمَسْحَتَيْنِ.
Furūḍut-tayammumi khamsah
Rukun tayamum ada lima: memindahkan debu, niat, mengusap wajah, mengusap kedua tangan sampai siku, dan tertib.
Penjabaran & Pemahaman
Lima rukun ini menjadi struktur pokok tayamum.
Lawan Sifat
Meninggalkan salah satu rukun tayamum.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُArtinya: “Jika kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci), lalu usaplah wajah dan tangan kalian dengannya...” (QS. Al-Ma’idah: 6).
Penjelasan: ayat ini menyebut media tayamum dan dua anggota yang diusap; matan merinci lima rukun termasuk niat dan tertib.
Kesimpulan
Tayamum dilakukan secara teratur sebagaimana rukun yang disebutkan.
14
مُبْطِلَاتُ التَّيَمُّمِ Mubṭilātut-Tayammum
مُبْطِلَاتُ التَّيَمُّمِ ثَلَاثَةٌ: مَا أَبْطَلَ الْوُضُوءَ، وَالرِّدَّةُ، وَتَوَهُّمُ الْمَاءِ إِنْ تَيَمَّمَ لِفَقْدِهِ.
Mubṭilātut-tayammumi tsalātsah
Pembatal tayamum ada tiga: segala yang membatalkan wudhu, murtad, dan adanya dugaan terdapat air ketika tayamum dilakukan karena tidak ada air.
Penjabaran & Pemahaman
Tayamum mengikuti hukum yang berkaitan dengan kesucian dan sebab tayamum itu sendiri.
Lawan Sifat
Menganggap tayamum tetap berlaku setelah pembatalnya terjadi.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًاArtinya: “Jika kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik...” (QS. Al-Ma’idah: 6).
Penjelasan: tayamum adalah pengganti bersuci yang berlaku ketika sebabnya terpenuhi. Apabila pembatal yang disebut matan terjadi, tayamum tidak lagi dapat dipertahankan.
Kesimpulan
Tayamum harus diperbarui jika pembatalnya terjadi atau sebabnya tidak lagi ada.
15
مَا يَطْهُرُ مِنَ النَّجَاسَاتِ Mā Yaṭhuru minan-Najāsāt
الَّذِي يَطْهُرُ مِنَ النَّجَاسَاتِ ثَلَاثَةٌ: الْخَمْرُ إِذَا تَخَلَّلَتْ بِنَفْسِهَا، وَجِلْدُ الْمَيْتَةِ إِذَا دُبِغَ، وَمَا صَارَ حَيَوَانًا.
Alladzī yaṭhuru minan-najāsāti tsalātsah
Perkara yang asalnya najis lalu menjadi suci yang disebut matan ada tiga, di antaranya khamar yang berubah menjadi cuka dengan sendirinya dan kulit bangkai yang disamak.
Penjabaran & Pemahaman
Perubahan hukum kesucian dalam matan memiliki rincian tertentu dan tidak boleh disamaratakan.
Lawan Sifat
Menganggap semua benda najis otomatis suci tanpa sebab yang diakui.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian sampai siku, sapulah kepala kalian dan basuhlah kaki kalian sampai kedua mata kaki. Jika kalian junub maka mandilah. Jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang di antara kalian datang dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik, lalu usaplah wajah dan tangan kalian dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak menyucikan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada kalian agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Ma’idah: 6).
Penjelasan: ayat ini merupakan dasar utama pembahasan bersuci sebelum shalat; rincian setiap fasal mengikuti matan dan fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Kesucian benda mengikuti sebab dan ketentuan fikih yang dijelaskan.
16
أَقْسَامُ النَّجَاسَاتِ Aqsāmun-Najāsāt
النَّجَاسَاتُ ثَلَاثٌ: مُغَلَّظَةٌ، وَمُخَفَّفَةٌ، وَمُتَوَسِّطَةٌ.
An-najāsātu tsalāts
Najis terbagi tiga: mughallazah, mukhaffafah, dan mutawassithah.
Penjabaran & Pemahaman
Najis mughallazah berkaitan dengan anjing, babi dan turunannya; mukhaffafah memiliki contoh tertentu pada air kencing bayi; mutawassithah adalah najis selain keduanya.
Lawan Sifat
Menyamakan seluruh najis tanpa memahami pembagiannya.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِArtinya: “Apabila anjing menjilat bejana salah seorang di antara kalian, hendaklah ia mencucinya tujuh kali; salah satunya dengan tanah.” (HR. Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dalil khusus tentang najis anjing dan cara penyuciannya, yang berkaitan dengan pembahasan najis mughallazah dalam matan.
Kesimpulan
Mengetahui jenis najis menentukan cara penyuciannya.
17
أَحْكَامُ تَطْهِيرِ النَّجَاسَةِ Aḥkāmu Taṭhīrin-Najāsah
المُغَلَّظَةُ تَطْهُرُ بِسَبْعِ غَسَلَاتٍ -بَعْدَ إِزَالَةِ عَيْنِهَا- إِحْدَاهُنَّ بِتُرَابٍ
وَالْمُخَفَّفَةُ تَطْهُرُ بِرَشِّ الْمَاءِ عَلَيْهَا مَعَ الْغَلَبَةِ وَإِزَالَةِ عَيْنِهَا
وَالْمُتَوَسِّطَةُ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ: عَيْنِيَّةٌ، وَحُكْمِيَّةٌ
الْعَيْنِيَّةُ: الَّتِي لَهَا لَوْنٌ وَرِيحٌ وَطَعْمٌ، فَلَا بُدَّ مِنْ إِزَالَةِ لَوْنِهَا وَرِيحِهَا وَطَعْمِهَا
وَالْحُكْمِيَّةُ: الَّتِي لَا لَوْنَ وَلَا رَيْحَ وَلَا طَعْمَ لَهَا، يَكْفِيكَ جَرَيَانُ الْمَاءِ عَلَيْهَا
Aḥkāmu Taṭhīrin-Najāsah
Najis mughallazah disucikan dengan tujuh kali basuhan setelah zat najisnya dihilangkan terlebih dahulu, dan salah satu basuhan dilakukan dengan tanah. Najis mukhaffafah disucikan dengan memercikkan air secara merata setelah zat najisnya dihilangkan. Najis mutawassithah terbagi menjadi dua: najis ‘ainiyah dan najis hukmiyah. Najis ‘ainiyah adalah najis yang masih mempunyai warna, bau, dan rasa, sehingga warna, bau, dan rasanya harus dihilangkan. Najis hukmiyah adalah najis yang tidak mempunyai warna, bau, maupun rasa, sehingga cukup dengan mengalirkan air pada tempat yang terkena najis.
Penjabaran & Pemahaman
Fasal ini menjelaskan tata cara menyucikan najis berdasarkan jenisnya. Najis mughallazah mempunyai tata cara khusus berupa tujuh kali basuhan dan salah satunya menggunakan tanah. Najis mukhaffafah mempunyai tata cara yang lebih ringan. Najis mutawassithah dibedakan lagi menjadi ‘ainiyah, yaitu najis yang zat atau sifatnya masih tampak, dan hukmiyah, yaitu najis yang zatnya sudah tidak tampak tetapi hukumnya masih ada pada tempat tersebut. Karena rincian penyucian berkaitan dengan keadaan nyata, penerapan hukum perlu memperhatikan jenis najis dan kondisi tempat yang terkena.
Lawan Sifat
Membersihkan najis dengan cara yang tidak sesuai dengan kategorinya.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: «إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ».
Artinya: “Apabila anjing menjilat bejana salah seorang di antara kalian, hendaklah ia mencucinya tujuh kali; salah satunya dengan tanah.” (HR. Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dalil khusus tentang cara menyucikan bejana yang terkena jilatan anjing. Hadis tersebut mendukung prinsip yang dijelaskan matan mengenai najis mughallazah. Adapun pembagian najis menjadi mughallazah, mukhaffafah, dan mutawassithah serta rincian masing-masing merupakan pembahasan fikih Syafi‘i yang diringkas oleh matan.
Kesimpulan
Penyucian najis harus dilakukan sesuai jenis najisnya. Najis mughallazah, mukhaffafah, dan mutawassithah tidak diperlakukan dengan satu cara yang sama.
Keterangan
Fasal 17 membahas cara menyucikan najis: mughallazah, mukhaffafah, dan mutawassithah.
18
الْحَيْضُ وَالنِّفَاسُ Al-Ḥaiḍ wan-Nifās
أَقَلُّ الْحَيْضِ: يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَغَالِبُهُ: سِتٌّ أَوْ سَبْعٌ، وَأَكْثَرُهُ: خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا بِلَيَالِيهَا
وَأَقَلُّ الطُّهْرِ بَيْنَ الْحَيْضَتَيْنِ: خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا، وَغَالِبُهُ: أَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا أَوْ ثَلَاثَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا، وَلَا حَدَّ لِأَكْثَرِهِ
وَأَقَلُّ النِّفَاسِ: مَجَّةٌ، وَغَالِبُهُ: أَرْبَعُونَ يَوْمًا، وَأَكْثَرُهُ: سِتُّونَ يَوْمًا
Al-Ḥaiḍ wan-Nifās
Masa haid paling sedikit adalah sehari semalam; kebiasaannya enam atau tujuh hari; dan paling lama lima belas hari beserta malam-malamnya. Masa suci di antara dua haid paling sedikit lima belas hari; umumnya dua puluh empat atau dua puluh tiga hari; dan tidak ada batas maksimalnya. Masa nifas paling sedikit adalah sesaat keluarnya darah; kebiasaannya empat puluh hari; dan paling lama enam puluh hari.
Penjabaran & Pemahaman
Matan menetapkan ukuran waktu yang menjadi dasar pembahasan haid, masa suci di antara dua haid, dan nifas dalam fikih Syafi‘i. Ukuran ini sangat penting karena status darah berpengaruh terhadap hukum shalat, puasa, thawaf, dan ibadah lainnya. Dalam kasus nyata, perhitungan haid tidak cukup dilakukan dengan satu angka saja; perlu dilihat urutan darah, masa suci, kebiasaan perempuan, dan pembahasan istihadhah secara keseluruhan.
Lawan Sifat
Mengabaikan batasan yang menjadi dasar pembahasan hukum haid.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ.
Artinya: “Katakanlah: haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari perempuan pada waktu haid dan janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah bersuci, maka campurilah mereka sesuai dengan ketentuan yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222).
Penjelasan: ayat ini menetapkan bahwa haid mempunyai hukum khusus. Adapun batas minimal, maksimal, dan kebiasaan haid serta ukuran nifas merupakan rincian fikih yang dijelaskan dalam matan.
Kesimpulan
Haid, masa suci, dan nifas mempunyai ukuran dan hukum yang berbeda. Karena berkaitan langsung dengan ibadah, perhitungannya harus dilakukan secara teliti sesuai rincian fikih.
Keterangan
Fasal 18 merupakan penutup Bab Thaharah dan memuat haid, masa suci di antara dua haid, serta nifas.