← Kembali ke Kitab
Cover Safinatun Najah
KITAB

Safinatun Najah

Karya Syekh Salim bin Abdullah bin Saad bin Sumair Al-Hadhrami
Matan dasar dalam mazhab Syafi‘i yang memuat pokok akidah dan fikih ibadah: thaharah, shalat, jenazah, zakat, dan puasa. Versi digital ini memisahkan lafaz matan dari terjemah, penjabaran, dalil pendukung, kesimpulan, dan catatan pembelajaran.
BAGIAN 04
بَابُ الصَّلَاةِ
Bābuṣ-Ṣalāh
Bab Shalat
Tampilan: Arab + Latin + Terjemah + Penjelasan
1
أَعْذَارُ الصَّلَاةِ A‘dzāruṣ-Ṣalāh
أَعْذَارُ الصَّلَاةِ اثْنَانِ: النَّوْمُ وَالنِّسْيَانُ.
A‘dzāruṣ-ṣalāti itsnān
Udzur shalat ada dua: tidur dan lupa.
Penjabaran & Pemahaman
Matan menyebut dua keadaan ini sebagai udzur yang berkaitan dengan pelaksanaan shalat.
Lawan Sifat
Mengabaikan kewajiban shalat tanpa udzur yang dibenarkan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا.
Artinya: “Barang siapa lupa suatu shalat atau tertidur darinya, maka kafaratnya adalah mengerjakannya ketika ia mengingatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar adanya uzur berupa tidur dan lupa dalam pembahasan shalat serta kewajiban mengerjakan shalat ketika telah ingat atau terbangun.
Kesimpulan
Tidur dan lupa dibahas sebagai udzur, bukan alasan meremehkan shalat.
2
شُرُوطُ الصَّلَاةِ Syurūṭuṣ-Ṣalāh
شُرُوطُ الصَّلَاةِ ثَمَانِيَةٌ: طَهَارَةُ الحَدَثَيْنِ، وَالطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِي الثَّوْبِ وَالبَدَنِ وَالمَكَانِ، وَسَتْرُ العَوْرَةِ، وَاسْتِقْبَالُ القِبْلَةِ، وَدُخُولُ الوَقْتِ، وَالعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهَا، وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فُرُوضِهَا سُنَّةً، وَاجْتِنَابُ المُبْطِلَاتِ. الأَحْدَاثُ اثْنَانِ: أَصْغَرُ وَأَكْبَرُ؛ فَالأَصْغَرُ مَا أَوْجَبَ الوُضُوءَ، وَالأَكْبَرُ مَا أَوْجَبَ الغُسْلَ. وَالعَوْرَاتُ أَرْبَعٌ: عَوْرَةُ الرَّجُلِ مُطْلَقًا وَالأَمَةِ فِي الصَّلَاةِ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ، وَعَوْرَةُ الحُرَّةِ فِي الصَّلَاةِ جَمِيعُ بَدَنِهَا مَا سِوَى الوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ، وَعَوْرَةُ الحُرَّةِ وَالأَمَةِ عِنْدَ الأَجَانِبِ جَمِيعُ البَدَنِ، وَعِنْدَ مَحَارِمِهِمَا وَالنِّسَاءِ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ.
Syurūṭuṣ-ṣalāti tsamāniyah
Syarat shalat ada delapan: suci dari hadas kecil dan besar; suci dari najis pada pakaian, badan dan tempat; menutup aurat; menghadap kiblat; masuk waktu; mengetahui kewajiban shalat; tidak meyakini salah satu fardhu shalat sebagai sunnah; dan menjauhi pembatal shalat. Matan kemudian menjelaskan bahwa hadas terbagi menjadi kecil dan besar. Setelah itu dijelaskan rincian aurat: aurat laki-laki dan budak perempuan dalam shalat adalah antara pusar dan lutut; aurat perempuan merdeka dalam shalat seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan; di hadapan laki-laki ajnabi seluruh tubuh; dan di hadapan mahram serta sesama perempuan antara pusar dan lutut.
Penjabaran & Pemahaman
Syarat merupakan keadaan yang harus diperhatikan sebelum shalat agar ibadah memenuhi ketentuan.
Lawan Sifat
Mengerjakan shalat tanpa memenuhi syaratnya.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian sampai siku, sapulah kepala kalian dan basuhlah kaki kalian sampai kedua mata kaki. Jika kalian junub maka mandilah. Jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang di antara kalian datang dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik, lalu usaplah wajah dan tangan kalian dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak menyucikan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada kalian agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Ma’idah: 6).
Penjelasan: ayat ini mencakup wudhu, mandi janabah, dan tayamum; rincian hukum pada masing-masing fasal dijelaskan oleh matan dan hadis-hadis Nabi .
Kesimpulan
Sebelum memperhatikan rukun, seorang muslim harus memastikan syarat shalat terpenuhi.
3
أَرْكَانُ الصَّلَاةِ Arkānus-Ṣalāh
أَرْكَانُ الصَّلَاةِ سَبْعَةَ عَشَرَ: النِّيَّةُ، وَتَكْبِيرَةُ الْإِحْرَامِ، وَالْقِيَامُ عَلَى الْقَادِرِ فِي الْفَرْضِ، وَقِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ، وَالرُّكُوعُ، وَالطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالِاعْتِدَالُ، وَالطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالسُّجُودُ، وَالطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالْجُلُوسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، وَالطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالتَّشَهُّدُ الْأَخِيرُ، وَالْقُعُودُ فِيهِ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فِيهِ، وَالسَّلَامُ، وَالتَّرْتِيبُ.
Arkānus-ṣalāti sab‘ata ‘asyar
Rukun shalat ada tujuh belas: niat; takbiratul ihram; berdiri bagi orang yang mampu dalam shalat fardhu; membaca Al-Fatihah; rukuk; thuma’ninah dalam rukuk; i‘tidal; thuma’ninah dalam i‘tidal; sujud dua kali; thuma’ninah dalam sujud; duduk di antara dua sujud; thuma’ninah dalam duduk tersebut; tasyahud akhir; duduk pada tasyahud akhir; membaca shalawat kepada Nabi ﷺ pada tasyahud akhir; salam; dan tertib.
Penjabaran & Pemahaman
Rukun adalah bagian pokok yang harus ada dalam shalat. Matan merinci tujuh belas rukun.
Lawan Sifat
Meninggalkan rukun shalat.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.
Artinya: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhari).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar mengikuti tata cara shalat Nabi . Matan merinci tata cara tersebut menjadi tujuh belas rukun shalat dalam kerangka fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Hafal dan memahami rukun membantu menjaga shalat tetap sah menurut ketentuan matan.
4
النِّيَّةُ An-Niyyah
النِّيَّةُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ: فَرْضٌ، وَنَافِلَةٌ مُؤَقَّتَةٌ أَوْ ذَاتُ سَبَبٍ، وَنَافِلَةٌ مُطْلَقَةٌ.
An-niyyatu tsalātsu darajāt
Niat mempunyai tiga tingkatan. Jika shalat yang dikerjakan adalah fardhu, wajib berniat melakukan shalat, menentukan shalat yang dimaksud, dan meniatkan kefardhuannya. Jika shalat sunnah mempunyai waktu tertentu atau sebab tertentu, wajib berniat melakukan shalat tersebut dan menentukan jenisnya. Jika shalat sunnah mutlak, cukup berniat melakukan shalat. Yang dimaksud qashdul fi‘li adalah menyengaja melakukan shalat; ta‘yīn adalah menentukan seperti Zuhur atau Ashar; dan fardhiyyah adalah meniatkan bahwa shalat tersebut fardhu.
Penjabaran & Pemahaman
Perbedaan niat mengikuti jenis shalat yang dilakukan. Matan membahas qasdul fi'li, ta'yin, dan fardhiyah untuk shalat fardhu.
Lawan Sifat
Berniat tidak sesuai dengan jenis shalat.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَىArtinya: “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar penting kewajiban niat; matan kemudian merinci niat sesuai jenis shalat.
Kesimpulan
Niat harus sesuai dengan shalat yang hendak dikerjakan.
5
شُرُوطُ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ Syurūṭut-Takbīr
شُرُوطُ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ سِتَّةَ عَشَرَ، مِنْهَا أَنْ تَقَعَ فِي الْقِيَامِ فِي الْفَرْضِ، وَأَنْ تَكُونَ بِالْعَرَبِيَّةِ، وَالتَّرْتِيبُ بَيْنَ لَفْظَيِ الْجَلَالَةِ وَأَكْبَرُ، وَدُخُولُ الْوَقْتِ فِي الْمُؤَقَّتِ.
Syurūṭut-takbīratil-iḥrām
Takbiratul ihram memiliki enam belas syarat sebagaimana dirinci dalam matan.
Penjabaran & Pemahaman
Takbiratul ihram menjadi pintu masuk shalat sehingga lafaz, posisi, waktu dan ketentuannya harus diperhatikan.
Lawan Sifat
Melakukan takbiratul ihram tanpa memenuhi syarat yang ditentukan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ.
Artinya: “Kunci shalat adalah bersuci, pengharamnya adalah takbir, dan penghalalnya adalah salam.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan lainnya).
Penjelasan: hadis ini menunjukkan kedudukan takbir sebagai pembuka shalat. Matan kemudian merinci syarat-syarat agar takbiratul ihram sah menurut fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Takbiratul ihram harus dilakukan sesuai ketentuan yang dijelaskan.
6
سُوْرَةُ الْفَاتِحَةِ Sūratul-Fātiḥah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ.
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm. Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Ar-Raḥmānir-Raḥīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn. Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Ṣirāṭallażīna an‘amta ‘alaihim ghairil-maghḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn.
Membaca Al-Fatihah merupakan salah satu rukun shalat.
Penjabaran & Pemahaman
Matan memberi perhatian pada bacaan Al-Fatihah sebagai rukun yang harus dilakukan sesuai ketentuannya.
Lawan Sifat
Meninggalkan bacaan Al-Fatihah pada posisi yang diwajibkan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِArtinya: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul-Kitab.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar kewajiban membaca Al-Fatihah sebagai salah satu rukun shalat.
Kesimpulan
Al-Fatihah memiliki kedudukan pokok dalam shalat.
7
تَشْدِيدَاتُ الْفَاتِحَةِ Tasydīdātul-Fātiḥah
تَشْدِيدَاتُ الفَاتِحَةِ أَرْبَعَ عَشْرَةَ: ١- ﴿بِسْمِ اللهِ﴾ فَوْقَ اللَّامِ، ٢- ﴿الرَّحْمَنِ﴾ فَوْقَ الرَّاءِ، ٣- ﴿الرَّحِيمِ﴾ فَوْقَ الرَّاءِ، ٤- ﴿الحَمْدُ لِلَّهِ﴾ فَوْقَ لَامِ الجَلَالَةِ، ٥- ﴿رَبِّ العَالَمِينَ﴾ فَوْقَ البَاءِ، ٦- ﴿الرَّحْمَنِ﴾ فَوْقَ الرَّاءِ، ٧- ﴿الرَّحِيمِ﴾ فَوْقَ الرَّاءِ، ٨- ﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴾ فَوْقَ الدَّالِ، ٩- ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ﴾ فَوْقَ اليَاءِ، ١٠- ﴿إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ فَوْقَ اليَاءِ، ١١- ﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيمَ﴾ فَوْقَ الصَّادِ، ١٢- ﴿صِرَاطَ الَّذِينَ﴾ فَوْقَ اللَّامِ، ١٣ وَ١٤- ﴿وَلَا الضَّالِّينَ﴾ فَوْقَ الضَّادِ وَاللَّامِ.
Tasydīdātul-Fātiḥah
Tasydid dalam Al-Fatihah yang dirinci matan berjumlah empat belas. Kesalahan pada tasydid tertentu dapat mengubah bentuk lafaz dan pada sebagian keadaan dapat memengaruhi makna.
Penjabaran & Pemahaman
Membaca Al-Fatihah dengan mengabaikan huruf dan tasydid yang wajib dijaga.
Lawan Sifat
Dalil pendukung: kewajiban membaca Al-Fatihah dalam shalat didukung hadis Nabi , “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul-Kitab” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Rincian empat belas tasydid adalah pembahasan teknis bacaan menurut matan/fikih, bukan satu hadis tersendiri.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.
Artinya: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul-Kitab.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: kewajiban membaca Al-Fatihah menjadi dasar penting mengapa ketepatan bacaan dan tasydid yang dirinci matan perlu diperhatikan dalam pembelajaran shalat.
Kesimpulan
Matan Safinatun Najah, Bab Shalat Fasal 7. Kolom ini memuat matan dan penjelasan teknis; penjelasan bukan bagian dari lafaz matan.
8
رَفْعُ الْيَدَيْنِ Raf‘ul-Yadain
يُسَنُّ رَفْعُ اليَدَيْنِ فِي أَرْبَعَةِ مَوَاضِعَ: ١- عِنْدَ تَكْبِيرَةِ الإِحْرَامِ، ٢- وَعِنْدَ الرُّكُوعِ، ٣- وَعِنْدَ الِاعْتِدَالِ، ٤- وَعِنْدَ القِيَامِ مِنَ التَّشَهُّدِ الأَوَّلِ.
Raf‘ul-Yadain
Mengangkat kedua tangan disunnahkan pada empat tempat: ketika takbiratul ihram, ketika hendak rukuk, ketika bangkit dari rukuk, dan ketika berdiri setelah tasyahud awal.
Penjabaran & Pemahaman
Rincian ini menjelaskan sunnah gerakan shalat dan membedakannya dari rukun. Meninggalkannya tidak sama dengan meninggalkan rukun shalat.
Lawan Sifat
Menganggap sunnah mengangkat tangan sebagai rukun sehingga shalat dianggap batal ketika tidak dilakukan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ إِذَا قَامَ لِلصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ كَبَّرَ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ، وَقَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يَسْجُدُ وَلَا حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُودِ.
Artinya: “Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: Rasulullah apabila berdiri untuk shalat mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, kemudian bertakbir. Apabila hendak rukuk beliau mengangkat kedua tangannya, dan apabila mengangkat kepala dari rukuk beliau juga mengangkat keduanya, seraya mengucapkan: ‘Allah mendengar orang yang memuji-Nya; wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji.’ Beliau tidak melakukan hal itu ketika sujud dan ketika mengangkat kepala dari sujud.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar sunnah mengangkat tangan pada tempat-tempat yang dirinci dalam matan.
Kesimpulan
Raf‘ul-yadain adalah sunnah yang memiliki dasar hadis; ia bukan rukun shalat.
9
شُرُوطُ السُّجُودِ Syurūṭus-Sujūd
شُرُوطُ السُّجُودِ سَبْعَةٌ: ١- أَنْ يَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْضَاءٍ، ٢- وَأَنْ تَكُونَ جَبْهَتُهُ مَكْشُوفَةً، ٣- وَالتَّحَامُلُ بِرَأْسِهِ، ٤- وَعَدَمُ الهُوِيِّ لِغَيْرِهِ، ٥- وَأَنْ لَا يَسْجُدَ عَلَى شَيْءٍ يَتَحَرَّكُ بِحَرَكَتِهِ، ٦- وَارْتِفَاعُ أَسَافِلِهِ عَلَى أَعَالِيهِ، ٧- وَالطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ.
Syurūṭus-Sujūd
Syarat sujud ada tujuh: sujud di atas tujuh anggota; dahi terbuka; memberikan tekanan pada kepala dalam sujud; tidak turun untuk sujud karena selain tujuan sujud; tidak sujud di atas sesuatu yang bergerak mengikuti gerakannya; bagian bawah badan lebih tinggi daripada bagian atasnya; dan thuma’ninah dalam sujud.
Penjabaran & Pemahaman
Sujud tidak cukup hanya menyentuhkan kepala ke lantai; ada ketentuan anggota, posisi, maksud, dan ketenangan yang harus diperhatikan.
Lawan Sifat
Kebalikan pembahasan ini adalah melakukan sujud tanpa memenuhi syarat yang ditetapkan sehingga gerakan sujud tidak memenuhi tata cara yang sah.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ: عَلَى الْجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى أَنْفِهِ، وَالْيَدَيْنِ، وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِArtinya: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota: dahi—beliau menunjuk hidungnya—kedua tangan, kedua lutut, dan ujung-ujung kedua kaki.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar tujuh anggota sujud yang disebutkan dalam syarat sujud pada matan.
Kesimpulan
Sujud harus dilakukan dengan anggota dan tata cara yang benar serta disertai thuma’ninah.
10
تَشْدِيدَاتُ التَّشَهُّدِ Tasydīdātut-Tasyahhud
تَشْدِيدَاتُ التَّشَهُّدِ إِحْدَى وَعِشْرُونَ: خَمْسٌ فِي أَكْمَلِهِ، وَسِتَّةَ عَشَرَ فِي أَقَلِّهِ، وَتُرَاعَى التَّشْدِيدَاتُ فِي أَلْفَاظِ التَّحِيَّاتِ وَالسَّلَامِ وَالشَّهَادَتَيْنِ وَالصَّلَاةِ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ.
Tasydīdātut-Tasyahhud
Matan merinci dua puluh satu posisi tasydid dalam bacaan tasyahud: lima pada bentuk yang lebih sempurna dan enam belas pada bentuk minimal yang dibahas.
Penjabaran & Pemahaman
Tasydid merupakan bagian dari ketepatan lafaz. Pembaca perlu memperhatikan bahwa rincian tasydid adalah panduan teknis bacaan, bukan rukun tambahan di luar tasyahud.
Lawan Sifat
Mengabaikan perubahan lafaz yang disebabkan oleh tasydid atau menganggap semua rincian teknis sebagai rukun yang berdiri sendiri.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ التَّشَهُّدَ، وَكَفِّي بَيْنَ كَفَّيْهِ، كَمَا يُعَلِّمُنِي السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Artinya: “Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah mengajarkan kepadaku tasyahud, sementara telapak tanganku berada di antara kedua telapak tangannya, sebagaimana beliau mengajarkan kepadaku sebuah surah dari Al-Qur’an: ‘Segala penghormatan, shalawat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menunjukkan bahwa bacaan tasyahud diajarkan secara langsung oleh Nabi ; matan kemudian merinci tasydid pada lafaznya.
Kesimpulan
Bacaan tasyahud harus dijaga lafaznya; rincian tasydid membantu menjaga ketepatan bacaan.
11
تَشْدِيدَاتُ أَقَلِّ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ Tasydīdāt Aqallish-Ṣalāh
تَشْدِيدَاتُ أَقَلِّ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ أَرْبَعٌ: ١ وَ٢- «اللَّهُمَّ» عَلَى اللَّامِ وَالمِيمِ، ٣- «صَلِّ» عَلَى اللَّامِ، ٤- «عَلَى مُحَمَّدٍ» عَلَى المِيمِ.
Tasydīdāt Aqallish-Ṣalāh
Tasydid minimal dalam lafaz shalawat kepada Nabi ﷺ yang disebut matan berjumlah empat, yaitu pada lafaz “Allahumma”, “shalli”, dan “Muhammad”.
Penjabaran & Pemahaman
Fasal ini menerangkan bentuk minimal lafaz shalawat yang dibaca dalam tasyahud akhir menurut susunan matan.
Lawan Sifat
Mengganti lafaz shalawat yang dijelaskan dengan bacaan yang tidak memenuhi bentuk minimal menurut pembahasan matan.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN DAN HADIS
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًاArtinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Penjelasan: ayat ini menjadi dasar perintah bershalawat kepada Nabi . Matan merinci bentuk minimal shalawat dalam tasyahud dan ketepatan tasydidnya.
Kesimpulan
Lafaz shalawat dalam tasyahud harus diperhatikan sesuai ketentuan yang dibahas dalam matan.
12
أَقَلُّ السَّلَامِ Aqallus-Salām
أَقَلُّ السَّلَامِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، تَشْدِيدُ السَّلَامِ عَلَى السِّينِ.
Aqallus-Salām
Lafaz salam minimal yang memenuhi ketentuan matan adalah “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ” dengan tasydid pada huruf sin dalam lafaz as-salām.
Penjabaran & Pemahaman
Salam adalah penutup shalat. Fasal ini tidak sedang membahas semua bentuk salam sunnah, tetapi menjelaskan lafaz minimal yang menjadi bagian wajib menurut matan.
Lawan Sifat
Meninggalkan salam atau mengucapkannya dengan lafaz yang tidak memenuhi ketentuan minimal yang dijelaskan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ.
Artinya: “Dan penghalal shalat adalah salam.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan lainnya).
Penjelasan: hadis ini menunjukkan bahwa salam merupakan penutup shalat. Matan menjelaskan lafaz minimal salam yang sah.
Kesimpulan
Penutup shalat harus dilakukan dengan salam yang memenuhi ketentuan lafaz minimal menurut matan.
13
أَوْقَاتُ الصَّلَاةِ Auqātuṣ-Ṣalāh
أَوْقَاتُ الصَّلَاةِ خَمْسَةٌ: وَقْتُ الظُّهْرِ، وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ، وَالْعِشَاءِ، وَالصُّبْحِ.
Auqātuṣ-ṣalāh
Shalat fardhu lima waktu memiliki waktu masing-masing: Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh.
Penjabaran & Pemahaman
Mengetahui masuk dan berakhirnya waktu adalah syarat penting shalat.
Lawan Sifat
Menunaikan shalat fardhu di luar waktunya tanpa alasan yang dibenarkan.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا.
Artinya: “Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa: 103).
Penjelasan: ayat ini menjadi dasar bahwa setiap shalat fardhu memiliki waktu yang telah ditentukan. Matan menyebut lima waktu shalat.
Kesimpulan
Shalat harus dijaga waktunya.
14
أَوْقَاتُ النَّهْيِ عَنِ الصَّلَاةِ Auqātun-Nahyi ‘aniṣ-Ṣalāh
تَحْرُمُ الصَّلَاةُ الَّتِي لَيْسَ لَهَا سَبَبٌ مُتَقَدِّمٌ وَلَا مُقَارِنٌ فِي خَمْسَةِ أَوْقَاتٍ: ١- عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ حَتَّى تَرْتَفِعَ قَدْرَ رُمْحٍ، ٢- وَعِنْدَ الِاسْتِوَاءِ فِي غَيْرِ يَوْمِ الجُمُعَةِ حَتَّى تَزُولَ، ٣- وَعِنْدَ الِاصْفِرَارِ حَتَّى تَغْرُبَ، ٤- وَبَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ٥- وَبَعْدَ صَلَاةِ العَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ.
Auqātun-Nahyi ‘aniṣ-Ṣalāh
Waktu yang dilarang untuk shalat sunnah yang tidak memiliki sebab terdahulu atau sebab yang bersamaan ada lima: ketika matahari terbit sampai naik, ketika matahari tepat di tengah langit selain hari Jumat sampai tergelincir, ketika matahari menguning menjelang terbenam, setelah Subuh sampai matahari terbit, dan setelah Ashar sampai matahari terbenam.
Penjabaran & Pemahaman
Larangan ini tidak berarti semua bentuk shalat pada waktu tersebut memiliki hukum yang sama; matan secara khusus menyebut shalat yang tidak mempunyai sebab terdahulu atau bersamaan. Karena itu pembaca tidak boleh menyamaratakan semua shalat tanpa melihat jenis dan sebabnya.
Lawan Sifat
Mengerjakan shalat sunnah mutlak pada waktu larangan tanpa memperhatikan sebab dan pengecualian yang dibahas dalam fikih.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
لَا صَلَاةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ.
Artinya: “Tidak ada shalat setelah Subuh sampai matahari terbit, dan tidak ada shalat setelah Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar larangan shalat sunnah pada sebagian waktu yang disebutkan dalam matan. Rincian lima waktu larangan mengikuti fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Waktu larangan harus dipahami bersama jenis shalat dan sebabnya; jangan menjadikan fasal ini sebagai larangan mutlak terhadap seluruh bentuk shalat.
15
سَكْتَاتُ الصَّلَاةِ Saktātus-Ṣalāh
سَكْتَاتُ الصَّلَاةِ سِتٌّ: ١- بَيْنَ تَكْبِيرَةِ الإِحْرَامِ وَدُعَاءِ الِافْتِتَاحِ، ٢- وَبَيْنَ دُعَاءِ الِافْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ، ٣- وَبَيْنَ الفَاتِحَةِ وَالتَّعَوُّذِ، ٤- وَبَيْنَ آخِرِ الفَاتِحَةِ وَآمِينَ، ٥- وَبَيْنَ آمِينَ وَالسُّوْرَةِ، ٦- وَبَيْنَ السُّوْرَةِ وَالرُّكُوْعِ.
Saktātus-Ṣalāh
Tempat saktah atau jeda dalam shalat yang disebut matan ada enam: antara takbiratul ihram dan doa iftitah, antara iftitah dan ta‘awwudz, antara ta‘awwudz dan Al-Fatihah, antara akhir Al-Fatihah dan amin, antara amin dan surah, serta antara surah dan rukuk.
Penjabaran & Pemahaman
Saktah adalah jeda yang membantu memisahkan bacaan dan menjaga susunan ibadah. Ia tidak boleh dipahami sebagai kewajiban baru yang membatalkan shalat jika ditinggalkan.
Lawan Sifat
Meninggalkan jeda sunnah tidak sama dengan meninggalkan rukun.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً.
Artinya: “Nabi diam sejenak antara takbir dan bacaan.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dalam riwayat tentang doa iftitah).
Penjelasan: riwayat tentang jeda dalam shalat menjadi dasar pembahasan saktah. Matan merinci enam tempat jeda yang dikenal dalam tata cara shalat Syafi‘i.
Kesimpulan
Saktah merupakan pengaturan bacaan dan jeda dalam shalat, bukan tambahan rukun.
16
الأَرْكَانُ الَّتِي تَلْزَمُ فِيهَا الطُّمَأْنِينَةُ Arkānut-Tuma’nīnah
الأَرْكَانُ الَّتِي تَلْزَمُ فِيهَا الطُّمَأْنِينَةُ أَرْبَعَةٌ: ١- الرُّكُوعُ، ٢- وَالِاعْتِدَالُ، ٣- وَالسُّجُودُ، ٤- وَالجُلُوسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ. وَالطُّمَأْنِينَةُ هِيَ: سُكُونٌ بَعْدَ حَرَكَةٍ، بِحَيْثُ يَسْتَقِرُّ كُلُّ عُضْوٍ مَحَلَّهُ بِقَدْرِ «سُبْحَانَ اللهِ».
Arkānut-Tuma’nīnah
Thuna’ninah wajib diperhatikan pada empat rukun: rukuk, i‘tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud. Matan menjelaskan thuma’ninah sebagai berhenti setelah gerakan sehingga setiap anggota badan menetap pada posisinya kira-kira selama membaca “Subhanallah”.
Penjabaran & Pemahaman
Thuma’ninah berbeda dari sekadar bergerak cepat lalu berhenti sesaat tanpa kestabilan anggota badan.
Lawan Sifat
Dalil pendukung: Nabi mengajarkan orang yang salah shalat agar rukuk dan sujud sampai tenang sebelum berpindah rukun (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًاArtinya: “Kemudian rukuklah sampai engkau tenang dalam rukuk, lalu bangkit sampai engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai engkau tenang dalam sujud, lalu bangkit sampai engkau tenang dalam duduk.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar kewajiban thuma’ninah pada rukun-rukun yang disebut dalam matan.
Kesimpulan
Matan Safinatun Najah, Bab Shalat Fasal 16.
17
سُجُودُ السَّهْوِ Sujūdus-Sahw
أَسْبَابُ سُجُودِ السَّهْوِ أَرْبَعَةٌ: تَرْكُ بَعْضٍ مِنْ أَبْعَاضِ الصَّلَاةِ، وَفِعْلُ مَا يُبْطِلُ عَمْدُهُ وَلَا يُبْطِلُ سَهْوُهُ، وَنَقْلُ رُكْنٍ قَوْلِيٍّ، وَإِيقَاعُ رُكْنٍ فِعْلِيٍّ مَعَ احْتِمَالِ الزِّيَادَةِ.
Asbābu sujūdis-sahwi arba‘ah
Sebab sujud sahwi ada empat sebagaimana dirinci matan.
Penjabaran & Pemahaman
Sujud sahwi menjadi mekanisme yang dijelaskan dalam matan ketika terjadi jenis kelupaan tertentu dalam shalat.
Lawan Sifat
Tidak melakukan sujud sahwi pada keadaan yang mengharuskannya menurut rincian matan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ.
Artinya: “Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya dan tidak mengetahui apakah ia telah shalat tiga atau empat rakaat, hendaklah ia membuang keraguan dan membangun berdasarkan yang diyakini, kemudian sujud dua kali sebelum salam.” (HR. Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar sujud sahwi karena keraguan dan kesalahan tertentu dalam shalat. Matan merinci empat sebab sujud sahwi.
Kesimpulan
Sujud sahwi berkaitan dengan kelupaan tertentu, bukan semua kesalahan.
18
أَبْعَاضُ الصَّلَاةِ Ab‘āḍuṣ-Ṣalāh
أَبْعَاضُ الصَّلَاةِ سَبْعَةٌ: التَّشَهُّدُ الْأَوَّلُ، وَقُعُودُهُ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فِيهِ، وَالصَّلَاةُ عَلَى الْآلِ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ، وَالْقُنُوتُ، وَقِيَامُهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ فِيهِ.
Ab‘āḍuṣ-ṣalāti sab‘ah
Sunnah ab'ad shalat ada tujuh, termasuk tasyahud awal, duduknya, shalawat, qunut dan beberapa rincian lainnya.
Penjabaran & Pemahaman
Ab'ad memiliki kedudukan khusus dalam pembahasan shalat dan terkait dengan sujud sahwi ketika ditinggalkan.
Lawan Sifat
Meninggalkan ab'ad dengan sengaja lalu menganggapnya sebagai rukun.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
إِذَا قَامَ النَّبِيُّ ﷺ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ، وَإِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلَاةِ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.
Artinya: “Apabila Nabi berdiri dalam shalat Zuhur setelah dua rakaat, beliau tidak duduk; setelah selesai shalat beliau sujud dua kali kemudian salam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis-hadis sujud sahwi menunjukkan adanya sunnah tertentu dalam shalat yang apabila ditinggalkan dapat berkaitan dengan sujud sahwi. Matan menyebut tujuh ab‘adh shalat.
Kesimpulan
Memahami perbedaan rukun dan ab'ad membantu memahami sujud sahwi.
19
مُبْطِلَاتُ الصَّلَاةِ Mubṭilātuṣ-Ṣalāh
تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِأَرْبَعَ عَشْرَةَ خَصْلَةً، مِنْهَا الْحَدَثُ، وَوُقُوعُ النَّجَاسَةِ، وَانْكِشَافُ الْعَوْرَةِ، وَالنُّطْقُ بِحَرْفَيْنِ عَمْدًا، وَالْأَكْلُ، وَثَلَاثُ حَرَكَاتٍ مُتَوَالِيَاتٍ، وَزِيَادَةُ رُكْنٍ فِعْلِيٍّ عَمْدًا، وَنِيَّةُ قَطْعِ الصَّلَاةِ.
Mubṭilātuṣ-ṣalāti arba‘ata ‘asyar
Shalat batal karena empat belas perkara yang dirinci dalam matan, di antaranya hadas, najis, terbukanya aurat, ucapan tertentu, makan, gerakan berturut-turut, penambahan rukun dengan sengaja, dan niat memutus shalat.
Penjabaran & Pemahaman
Mengetahui pembatal menjaga agar shalat tidak rusak tanpa disadari.
Lawan Sifat
Melakukan perkara yang membatalkan shalat.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هِيَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ.
Artinya: “Sesungguhnya shalat ini tidak layak di dalamnya sesuatu dari pembicaraan manusia; shalat hanyalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Muslim).
Penjelasan: hadis ini menunjukkan bahwa shalat mempunyai aturan khusus dan tidak disamakan dengan aktivitas biasa. Matan merinci empat belas perkara yang membatalkan shalat.
Kesimpulan
Seorang yang shalat perlu menjaga diri dari perkara pembatal.
20
الَّذِي يَلْزَمُ فِيهِ نِيَّةُ الإِمَامَةِ Alladzī Yalzamu fīhi Niyyatul-Imāmah
الَّذِي يَلْزَمُ فِيهِ نِيَّةُ الإِمَامَةِ أَرْبَعٌ: ١- الجُمُعَةُ، ٢- وَالمُعَادَةُ، ٣- وَالمَنْذُورَةُ جَمَاعَةً، ٤- وَالمُتَقَدِّمَةُ فِي المَطَرِ.
Alladzī Yalzamu fīhi Niyyatul-Imāmah
Niat menjadi imam diwajibkan dalam empat keadaan menurut matan: shalat Jumat, shalat i‘adah (mengulangi shalat), shalat nazar berjamaah, dan shalat yang dijamak taqdim karena hujan.
Penjabaran & Pemahaman
Fasal ini membedakan antara niat shalat bagi imam dan niat mengikuti imam bagi makmum. Ketentuan ini khusus menurut pembahasan fikih yang sedang diringkas oleh matan.
Lawan Sifat
Menganggap niat imamah selalu sama hukumnya dalam semua shalat tanpa memperhatikan keadaan yang dirinci matan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا، وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعُونَ.
Artinya: “Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti. Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah; apabila ia rukuk, maka rukuklah; apabila ia mengucapkan ‘Allah mendengar orang yang memuji-Nya’, maka ucapkanlah ‘Rabb kami, bagi-Mu segala puji’; apabila ia shalat berdiri, maka shalatlah kalian berdiri; dan apabila ia shalat duduk, maka shalatlah kalian duduk semuanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar hubungan imam dan makmum; matan menjelaskan keadaan ketika niat imam diperlukan.
Kesimpulan
Niat imamah memiliki rincian hukum dan tidak boleh disamaratakan pada semua shalat berjamaah.
21
شُرُوطُ القُدْوَةِ Syurūṭul-Qudwah
شُرُوطُ القُدْوَةِ أَحَدَ عَشَرَ: أ- أَنْ لَا يَعْلَمَ بُطْلَانَ صَلَاةِ إِمَامِهِ بِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ، ب- وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ وُجُوبَ قَضَائِهَا عَلَيْهِ، ج- وَأَنْ لَا يَكُونَ مَأْمُومًا، د- وَلَا أُمِّيًّا، هـ- وَأَنْ لَا يَتَقَدَّمَ عَلَى إِمَامِهِ فِي المَوْقِفِ، وَ- وَأَنْ يَعْلَمَ انْتِقَالَاتِ إِمَامِهِ، ز- وَأَنْ يَجْتَمِعَا فِي مَسْجِدٍ، أَوْ ثَلَاثِ مِئَةِ ذِرَاعٍ تَقْرِيبًا، ح- وَأَنْ يَنْوِيَ القُدْوَةَ أَوِ الجَمَاعَةَ، ط- وَأَنْ يَتَوَافَقَ نَظْمُ صَلَاتَيْهِمَا، ي- وَأَنْ لَا يُخَالِفَهُ فِي سُنَّةٍ فَاحِشَةِ المُخَالَفَةِ، يَا- وَأَنْ يُتَابِعَهُ.
Syurūṭul-Qudwah
Syarat mengikuti imam ada sebelas. Intinya meliputi tidak mengetahui shalat imam batal, tidak meyakini imam wajib mengulang, imam bukan sedang menjadi makmum, imam bukan ummi dalam konteks yang menghalangi, posisi makmum tidak mendahului imam, makmum mengetahui perpindahan gerakan imam, terdapat keterhubungan tempat, ada niat mengikuti, bentuk shalat sesuai, tidak menyelisihi imam pada sunnah yang sangat berbeda, dan makmum mengikuti imam.
Penjabaran & Pemahaman
Berjamaah bukan sekadar berdiri bersama; keterhubungan niat, tempat, jenis shalat, dan mengikuti gerakan imam memiliki ketentuan.
Lawan Sifat
Makmum yang sengaja mendahului atau menyelisihi imam dengan cara yang dilarang tidak memenuhi prinsip ittiba’ yang diajarkan dalam shalat berjamaah.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا...
Artinya: “Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti. Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah kalian; apabila ia rukuk, maka rukuklah kalian...” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar kewajiban mengikuti imam dan tidak mendahuluinya; matan merinci syarat-syarat qudwah.
Kesimpulan
Makmum wajib menjaga hubungan shalatnya dengan imam dan mengikuti perpindahan gerakan imam.
22
صُوَرُ القُدْوَةِ الَّتِي تَصِحُّ Ṣuwarul-Qudwah allatī Taṣiḥḥ
صُوَرُ القُدْوَةِ تِسْعٌ، تَصِحُّ فِي خَمْسٍ: ١- قُدْوَةُ رَجُلٍ، ٢- وَقُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِرَجُلٍ، ٣- وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِرَجُلٍ، ٤- وَقُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِخُنْثَى، ٥- وَقُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِامْرَأَةٍ.
Ṣuwarul-Qudwah allatī Taṣiḥḥ
Matan menyebut sembilan kemungkinan bentuk mengikuti imam dan menyatakan lima bentuk yang sah: laki-laki mengikuti laki-laki; perempuan mengikuti laki-laki; khuntsa mengikuti laki-laki; perempuan mengikuti khuntsa; dan perempuan mengikuti perempuan.
Penjabaran & Pemahaman
Pembagian ini adalah rincian hukum jamaah dalam fikih Syafi‘i dan harus dibaca bersama pembahasan syarat qudwah serta keadaan saf jamaah.
Lawan Sifat
Kebalikan dari lima bentuk ini adalah bentuk-bentuk yang dinyatakan tidak sah pada fasal berikutnya.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ.
Artinya: “Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti. Apabila ia bertakbir maka bertakbirlah; apabila ia rukuk maka rukuklah; dan apabila ia mengucapkan ‘Allah mendengar orang yang memuji-Nya’, maka ucapkanlah ‘Rabb kami, bagi-Mu segala puji.’” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar prinsip mengikuti imam; rincian bentuk jamaah yang sah merupakan pembahasan fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Keabsahan mengikuti imam bergantung pada kesesuaian bentuk imam dan makmum sebagaimana dirinci matan.
23
صُوَرُ القُدْوَةِ الَّتِي لَا تَصِحُّ Ṣuwarul-Qudwah allatī Lā Taṣiḥḥ
وَتَبْطُلُ فِي أَرْبَعٍ: ١- قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةٍ، ٢- وَقُدْوَةُ رَجُلٍ بِخُنْثَى، ٣- وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِامْرَأَةٍ، ٤- وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِخُنْثَى.
Ṣuwarul-Qudwah allatī Lā Taṣiḥḥ
Matan menyebut empat bentuk mengikuti imam yang tidak sah: laki-laki mengikuti perempuan; laki-laki mengikuti khuntsa; khuntsa mengikuti perempuan; dan khuntsa mengikuti khuntsa.
Penjabaran & Pemahaman
Fasal ini harus dipahami sebagai ketentuan dalam kerangka fikih Syafi‘i yang menjadi susunan matan. Jangan memperluasnya menjadi penilaian terhadap pribadi seseorang di luar konteks hukum yang sedang dibahas.
Lawan Sifat
Menganggap semua bentuk imam-makmum sah tanpa melihat ketentuan jenis imam dan makmum yang disebutkan matan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ.
Artinya: “Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar prinsip qudwah. Rincian bentuk yang sah dan tidak sah mengikuti ketentuan fikih Syafi‘i yang diringkas dalam matan.
Kesimpulan
Keabsahan jamaah mengikuti aturan bentuk imam dan makmum sebagaimana dirinci matan.
24
شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ Syurūṭu Jam‘it-Taqdīm
شُرُوطُ جَمْعِ التَّقْدِيمِ أَرْبَعَةٌ: ١- البَدَاءَةُ بِالأُولَى، ٢- وَنِيَّةُ الجَمْعِ فِيهَا، ٣- وَالمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا، ٤- وَدَوَامُ العُذْرِ.
Syurūṭu Jam‘it-Taqdīm
Syarat jamak taqdim ada empat: memulai dengan shalat yang pertama, berniat jamak pada shalat pertama, melaksanakan keduanya secara berurutan tanpa jeda yang memutus muwalat, dan uzur tetap berlangsung.
Penjabaran & Pemahaman
Jama' dan qashar merupakan rukhsah yang memiliki batasan dan syarat, bukan kebebasan mengubah semua shalat.
Lawan Sifat
Mengqashar atau menjamak tanpa memenuhi syarat perjalanan dan ketentuan fikih.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًاArtinya: “Apabila kalian bepergian di bumi, maka tidak berdosa bagi kalian mengqashar shalat...” (QS. An-Nisa: 101).
Penjelasan: ayat ini menjadi dasar rukhsah qashar dalam perjalanan. Syarat jamak taqdim merupakan rincian hukum fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Rukhsah safar digunakan sesuai ketentuan syariat.
25
شُرُوطُ جَمْعِ التَّأْخِيرِ Syurūṭu Jam‘it-Ta’khīr
شُرُوطُ جَمْعِ التَّأْخِيرِ اثْنَانِ: ١- نِيَّةُ التَّأْخِيرِ وَقَدْ بَقِيَ مِنْ وَقْتِ الأُولَى مَا يَسَعُهَا، ٢- وَدَوَامُ العُذْرِ إِلَى تَمَامِ الثَّانِيَةِ.
Syurūṭu Jam‘it-Ta’khīr
Syarat jamak ta’khir ada dua: berniat menunda shalat pertama ketika masih tersisa waktu yang cukup untuk melaksanakannya, dan uzur terus berlangsung sampai selesai waktu shalat kedua.
Penjabaran & Pemahaman
Jamak ta’khir adalah rukhsah yang terkait uzur. Niat dan keberlangsungan uzur menjadi bagian penting dari ketentuan yang diringkas matan.
Lawan Sifat
Menunda shalat tanpa niat dan tanpa uzur yang dibenarkan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا.
Artinya: “Apabila Rasulullah berangkat sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan Zuhur hingga waktu Ashar, kemudian beliau turun dan menjamak keduanya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Penjelasan: hadis ini menjadi salah satu dasar praktik jamak ta’khir dalam perjalanan. Matan menjelaskan dua syarat jamak ta’khir.
Kesimpulan
Jamak ta’khir memiliki syarat yang harus dipenuhi; tidak setiap penundaan shalat menjadi jamak yang sah.
26
أَرْكَانُ صَلَاةِ الْمُسَافِرِ Arkānu Ṣalātil-Musāfir
يَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ قَصْرُ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْعِشَاءِ إِلَى رَكْعَتَيْنِ بِالشُّرُوطِ الْمَعْرُوفَةِ.
Yajūzu lil-musāfiri qaṣruẓ-ẓuhri wal-‘aṣri wal-‘isyā'
Musafir dapat mengqashar shalat empat rakaat menjadi dua dengan syarat yang ditetapkan.
Penjabaran & Pemahaman
Rukhsah qashar hanya berlaku pada shalat empat rakaat dan dalam keadaan safar yang memenuhi syarat.
Lawan Sifat
Mengqashar shalat Subuh atau Maghrib.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًاArtinya: “Apabila kalian bepergian di bumi, maka tidak berdosa bagi kalian mengqashar shalat...” (QS. An-Nisa: 101).
Penjelasan: ayat ini menunjukkan adanya rukhsah qashar bagi musafir. Matan menjelaskan shalat Zuhur, Ashar, dan Isya dapat diqashar menjadi dua rakaat dengan syarat-syaratnya.
Kesimpulan
Qashar merupakan keringanan bagi musafir sesuai ketentuan.
27
شُرُوطُ الْجُمُعَةِ Syurūṭul-Jumu‘ah
شُرُوطُ الْجُمُعَةِ سِتَّةٌ، مِنْهَا أَنْ تُقَامَ فِي وَقْتِ الظُّهْرِ وَأَنْ تَكُونَ بِجَمَاعَةٍ وَأَنْ تَتَقَدَّمَهَا خُطْبَتَانِ.
Syurūṭul-jumu‘ah
Shalat Jumat memiliki syarat-syarat tertentu, termasuk waktu, jamaah, dan didahului dua khutbah menurut rincian matan.
Penjabaran & Pemahaman
Jumat merupakan ibadah khusus dengan syarat yang berbeda dari shalat lima waktu biasa.
Lawan Sifat
Mengerjakan Jumat tanpa memenuhi syaratnya.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَArtinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kalian menuju mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” (QS. Al-Jumu‘ah: 9).
Penjelasan: ayat ini menjadi dasar kewajiban menghadiri shalat Jumat bagi orang yang terkena kewajibannya. Syarat rinci dalam matan merupakan pembahasan fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Ketentuan Jumat perlu dipahami sebelum pelaksanaannya.
28
أَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ Arkānul-Khuṭbatain
أَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ خَمْسَةٌ: حَمْدُ اللهِ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، وَالْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى، وَقِرَاءَةُ آيَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ فِي إِحْدَاهُمَا، وَالدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِينَ فِي الثَّانِيَةِ.
Arkānul-khuṭbataini khamsah
Rukun khutbah Jumat ada lima sebagaimana dirinci dalam matan.
Penjabaran & Pemahaman
Khutbah bukan sekadar pidato, tetapi memiliki unsur yang harus diperhatikan dalam fikih Jumat.
Lawan Sifat
Menghilangkan rukun khutbah yang diwajibkan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.
Artinya: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhari).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar umum tata cara shalat. Rincian syarat, rukun, sunnah, dan pembatal dalam fasal ini merupakan penjelasan fikih Syafi‘i atas pelaksanaan shalat.
Kesimpulan
Khutbah Jumat harus memenuhi rukun yang ditentukan.
29
شُرُوطُ الخُطْبَتَيْنِ Syurūṭul-Khuṭbatain
شُرُوطُ الخُطْبَتَيْنِ عَشَرَةٌ: ١- الطَّهَارَةُ عَنِ الحَدَثَيْنِ الأَصْغَرِ وَالأَكْبَرِ، ٢- وَالطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِي الثَّوْبِ وَالبَدَنِ وَالمَكَانِ، ٣- وَسَتْرُ العَوْرَةِ، ٤- وَالقِيَامُ عَلَى القَادِرِ، ٥- وَالجُلُوسُ بَيْنَهُمَا فَوْقَ طُمَأْنِينَةِ الصَّلَاةِ، ٦- وَالمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا، ٧- وَالمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ الصَّلَاةِ، ٨- وَأَنْ تَكُونَا بِالعَرَبِيَّةِ، ٩- وَأَنْ يُسْمِعَهَا أَرْبَعِينَ، ١٠- وَأَنْ تَكُونَ كُلُّهَا فِي وَقْتِ الظُّهْرِ.
Syurūṭul-Khuṭbatain
Syarat dua khutbah Jumat ada sepuluh: suci dari hadas, suci dari najis pada pakaian/badan/tempat, menutup aurat, berdiri bagi yang mampu, duduk di antara dua khutbah dengan kadar tertentu, bersambung antara dua khutbah, bersambung dengan shalat Jumat, berbahasa Arab, terdengar oleh empat puluh orang yang memenuhi ketentuan, dan seluruh khutbah berada dalam waktu Zuhur.
Penjabaran & Pemahaman
Khutbah Jumat bukan sekadar ceramah; dalam fikih Syafi‘i ia mempunyai syarat yang terkait kesucian, waktu, bahasa, kesinambungan, dan jamaah.
Lawan Sifat
Melaksanakan khutbah tanpa memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dapat memengaruhi keabsahan Jumat menurut rincian mazhab.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kalian menuju mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” (QS. Al-Jumu‘ah: 9).
Penjelasan: ayat ini menjadi dasar penting pelaksanaan Jumat. Syarat dua khutbah yang rinci dalam matan merupakan pembahasan fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Keabsahan khutbah harus diperiksa dengan seluruh syarat yang dirinci, bukan hanya isi ceramahnya.