← Kembali ke Kitab
Cover Safinatun Najah
KITAB

Safinatun Najah

Karya Syekh Salim bin Abdullah bin Saad bin Sumair Al-Hadhrami
Matan dasar dalam mazhab Syafi‘i yang memuat pokok akidah dan fikih ibadah: thaharah, shalat, jenazah, zakat, dan puasa. Versi digital ini memisahkan lafaz matan dari terjemah, penjabaran, dalil pendukung, kesimpulan, dan catatan pembelajaran.
BAGIAN 05
بَابُ الْجَنَائِزِ
Bābul-Janā’iz
Bab Jenazah
Tampilan: Arab + Latin + Terjemah + Penjelasan
1
الَّذِي يَلْزَمُ لِلْمَيِّتِ Alladzī Yalzamu lil-Mayyit
الَّذِي يَلْزَمُ لِلْمَيِّتِ أَرْبَعُ خِصَالٍ: غُسْلُهُ، وَتَكْفِينُهُ، وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ، وَدَفْنُهُ.
Alladzī yalzamu lil-mayyiti arba‘
Kewajiban terhadap mayit ada empat: memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan.
Penjabaran & Pemahaman
Pengurusan jenazah merupakan kewajiban kolektif umat Islam.
Lawan Sifat
Mengabaikan pengurusan jenazah tanpa alasan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ، فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا إِلَيْهِ، وَإِنْ تَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْArtinya: “Segerakanlah jenazah. Jika ia orang saleh, itu adalah kebaikan yang kalian segerakan kepadanya; jika bukan demikian, maka keburukan yang kalian lepaskan dari pundak kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menunjukkan perhatian syariat terhadap penyelenggaraan jenazah. Empat kewajiban yang disebut matan merupakan rangkaian pengurusan jenazah.
Kesimpulan
Empat perkara ini menjadi pokok pengurusan jenazah.
2
غُسْلُ الْمَيِّتِ Ghuslul-Mayyit
أَقَلُّ الْغُسْلِ تَعْمِيمُ بَدَنِهِ بِالْمَاءِ، وَأَكْمَلُهُ أَنْ يُغْسَلَ سَوْأَتَاهُ وَيُزَالَ الْقَذَرُ وَيُوَضَّأَ وَيُغْسَلَ بِالسِّدْرِ وَيُصَبَّ الْمَاءُ عَلَيْهِ ثَلَاثًا.
Aqallul-ghusli ta‘mīmu badanih
Batas minimal memandikan mayit adalah meratakan air ke seluruh tubuhnya. Cara yang lebih sempurna adalah membasuh kedua kemaluannya, menghilangkan kotoran dari hidungnya, mewudhukannya, menggosok tubuhnya dengan daun sidr, lalu menyiramkan air kepadanya tiga kali.
Penjabaran & Pemahaman
Memandikan mayit dilakukan dengan menjaga kehormatan dan kesucian jenazah.
Lawan Sifat
Tidak memandikan atau mengabaikan ketentuan dasar.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
فِي غَسْلِ الْمَيِّتِ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «اغْسِلْنَهَا مَاءً وَسِدْرًا، وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا».
Artinya: “Mandikanlah dia dengan air dan daun sidr, dan pada basuhan terakhir gunakanlah kapur barus.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar tata cara memandikan mayit dengan air dan sidr serta menunjukkan adanya cara yang lebih sempurna daripada sekadar meratakan air.
Kesimpulan
Jenazah dimandikan dengan cara yang terhormat dan sesuai ketentuan.
3
الْكَفَنُ Al-Kafan
أَقَلُّ الْكَفَنِ ثَوْبٌ يَعُمُّهُ، وَأَكْمَلُهُ لِلرَّجُلِ ثَلَاثُ لَفَائِفَ، وَلِلْمَرْأَةِ قَمِيصٌ وَخِمَارٌ وَإِزَارٌ وَلِفَافَتَانِ.
Aqallul-kafani tsaubun ya‘ummuhu
Batas minimal kafan adalah satu kain yang menutupi seluruh tubuh mayit. Kafan yang lebih sempurna bagi laki-laki adalah tiga helai kain. Bagi perempuan adalah baju, kerudung, sarung, dan dua helai kain pembungkus.
Penjabaran & Pemahaman
Kafan bertujuan menutup dan menjaga kehormatan mayit.
Lawan Sifat
Menguburkan mayit tanpa menutup aurat dan tubuhnya sebagaimana ketentuan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
كَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ.
Artinya: “Kafanilah dia dengan dua kainnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim; hadis tentang ihram seorang yang meninggal).
Penjelasan: hadis-hadis jenazah menunjukkan kewajiban menutup mayit dengan kain kafan. Matan kemudian menjelaskan batas minimal dan bentuk yang lebih sempurna.
Kesimpulan
Kafan dilakukan sesuai kemampuan dan ketentuan yang dijelaskan.
4
أَرْكَانُ صَلَاةِ الْجَنَازَةِ Arkānu Ṣalātil-Janāzah
أَرْكَانُ صَلَاةِ الْجَنَازَةِ سَبْعَةٌ: النِّيَّةُ، وَأَرْبَعُ تَكْبِيرَاتٍ، وَالْقِيَامُ، وَقِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، وَالدُّعَاءُ لِلْمَيِّتِ، وَالسَّلَامُ.
Arkānu ṣalātil-janāzati sab‘ah
Rukun shalat jenazah ada tujuh: niat; empat kali takbir; berdiri bagi yang mampu; membaca Al-Fatihah; membaca shalawat kepada Nabi ﷺ; berdoa untuk mayit; dan salam.
Penjabaran & Pemahaman
Shalat jenazah memiliki struktur yang berbeda dari shalat lima waktu karena tidak ada ruku dan sujud.
Lawan Sifat
Meninggalkan rukun shalat jenazah.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
صَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى النَّجَاشِيِّ، فَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًاArtinya: “Rasulullah menshalatkan an-Najasyi, lalu beliau bertakbir empat kali atasnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dasar empat takbir dalam shalat jenazah. Rukun lain seperti niat, berdiri, Al-Fatihah, shalawat, doa untuk mayit, dan salam dirinci dalam fikih.
Kesimpulan
Shalat jenazah dilaksanakan dengan tujuh rukun tersebut.
5
دَفْنُ الْمَيِّتِ Dafnul-Mayyit
أَقَلُّ الْقَبْرِ حُفْرَةٌ تَكْتُمُ رَائِحَتَهُ وَحَرْسُهُ مِنَ السِّبَاعِ، وَيُجَبُ تَوْجِيهُهُ إِلَى الْقِبْلَةِ.
Aqallul-qabri ḥufrah
Batas minimal kubur adalah sebuah lubang yang menutupi bau mayit dan melindunginya dari binatang buas. Mayit wajib diarahkan menghadap kiblat.
Penjabaran & Pemahaman
Penguburan bertujuan menjaga kehormatan mayit dan keselamatan jasad.
Lawan Sifat
Menguburkan tanpa memenuhi perlindungan dasar.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
وَإِذَا دَفَنْتُمُونِي فَأَلْحِدُوا لِي لَحْدًا.
Artinya: “Apabila kalian menguburkanku, maka buatkanlah untukku lahad.” (HR. Muslim).
Penjelasan: hadis ini menunjukkan perhatian syariat terhadap cara pemakaman. Matan menetapkan batas minimal kubur dan kewajiban menghadapkan mayit ke kiblat menurut fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Mayit dikuburkan dengan menjaga kehormatan dan menghadap kiblat.
6
نَبْشُ الْمَيِّتِ Nabsyul-Mayyit
يُنْبَشُ الْمَيِّتُ لِأَرْبَعِ خِصَالٍ: لِلْغُسْلِ إِذَا لَمْ يَتَغَيَّرْ، وَلِتَوْجِيهِهِ إِلَى الْقِبْلَةِ، وَلِلْمَالِ إِذَا دُفِنَ مَعَهُ، وَلِلْمَرْأَةِ إِذَا دُفِنَ جَنِينُهَا مَعَهَا وَأَمْكَنَتْ حَيَاتُهُ.
Yunbasyul-mayyitu li arba‘
Mayit boleh digali kembali dalam empat keadaan: untuk dimandikan apabila belum berubah; untuk diarahkan ke kiblat; untuk mengambil harta apabila harta tersebut ikut terkubur bersamanya; dan untuk kepentingan seorang perempuan apabila janinnya dikuburkan bersamanya dan masih ada kemungkinan janin itu hidup.
Penjabaran & Pemahaman
Penggalian bukan kebiasaan umum, tetapi terkait keadaan khusus yang disebutkan dalam matan.
Lawan Sifat
Menggali kubur tanpa alasan yang dibenarkan.
Dalil & Artinya
DALIL HADIS
أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ، فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا إِلَيْهِ، وَإِنْ تَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ.
Artinya: “Segerakanlah jenazah. Jika ia orang saleh, itu adalah kebaikan yang kalian segerakan kepadanya; jika bukan demikian, maka keburukan yang kalian lepaskan dari pundak kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: hadis ini menjadi dalil umum perhatian syariat terhadap pengurusan jenazah. Rincian hukum pada fasal mengikuti matan dan fikih Syafi‘i.
Kesimpulan
Kehormatan kubur dijaga dan pengecualian hanya pada alasan yang dibahas.
7
الِاسْتِعَانَةُ Al-Isti‘ānah
الِاسْتِعَانَاتُ أَرْبَعُ خِصَالٍ: مُبَاحَةٌ، وَخِلَافُ الْأَوْلَى، وَمَكْرُوهَةٌ، وَوَاجِبَةٌ.
Al-isti‘ānātu arba‘
Hukum meminta bantuan dalam bersuci ada empat: mubah, khilaf aula, makruh, dan wajib sesuai keadaan.
Penjabaran & Pemahaman
Matan menunjukkan bahwa meminta bantuan dalam bersuci memiliki hukum yang berbeda sesuai kebutuhan dan kondisi.
Lawan Sifat
Meminta bantuan secara serampangan tanpa melihat keadaan.
Dalil & Artinya
DALIL AL-QURAN
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ.
Artinya: “Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16).
Penjelasan: ayat ini menjadi dasar umum bahwa kewajiban dilaksanakan sesuai kemampuan. Matan membedakan hukum meminta bantuan dalam bersuci sesuai keadaan orang yang melakukannya.
Kesimpulan
Meminta bantuan dapat berubah hukum sesuai kebutuhan.